<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Dongeng Motivasi</title>
	<atom:link href="http://dongengmotivasi.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dongengmotivasi.com</link>
	<description>Kisah-kisah Inspiratif dan Motivatif</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Dec 2009 03:52:29 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Batman Dan Mbah Gendeng</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/batman-dan-mbah-gendeng.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/batman-dan-mbah-gendeng.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Dec 2009 03:49:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini kelanjutan dari cerita sebelumnya.
&#8220;Huh, siyal, masa&#8217; bocor lagi sih&#8221;, ujar Batman gemas sambil menendang pintu BatMobile-nya perlahan. Meskipun kesal, ia masih cukup sadar untuk tidak melampiaskannya kepada kendaraan tercintanya, yang cicilannya belum lunas itu. Dengan susah payah, ia mendorong mobilnya ke pinggir, ke sebuah tambal ban yang kebetulan berada tidak jauh dari situ.
&#8220;Mbah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small>Cerita ini kelanjutan dari <a href="http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm">cerita sebelumnya</a>.</small></p>
<p>&#8220;Huh, siyal, masa&#8217; bocor lagi sih&#8221;, ujar Batman gemas sambil menendang pintu BatMobile-nya perlahan. Meskipun kesal, ia masih cukup sadar untuk tidak melampiaskannya kepada kendaraan tercintanya, yang cicilannya belum lunas itu. Dengan susah payah, ia mendorong mobilnya ke pinggir, ke sebuah tambal ban yang kebetulan berada tidak jauh dari situ.</p>
<p>&#8220;<strong>Mbah Gendeng &#8211; Nambal Ban Sejak 1911</strong>&#8221;</p>
<p>Begitu tulisan yang tertera di atas &#8220;bengkel&#8221; kecil yang didirikan seadanya di bawah sebuah pohon beringin besar.</p>
<p><span id="more-68"></span>&#8220;Bannya bocor ya, nak?&#8221;, tanya seorang kakek tua yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.</p>
<p>&#8220;Iya, mbah&#8221;, jawab Batman lesu, &#8220;sudah kedua kalinya nih. Padahal baru sekitar 5km lalu bocor dan ditambal.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hmmm&#8230;&#8221;, mbah Gendeng mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai mempersiapkan peralatannya. Bak air sabun untuk memeriksa bagian ban yang bocor, dongkrak, pompa angin, dan sebagainya. &#8220;Silahkan duduk dulu aja di kursi kayu itu, nak. Biar mbah kerjakan dulu bannya.&#8221;</p>
<hr />
<p>45 menit berlalu, Batman mulai gak sabar. Maklum, ia lagi semangat-semangatnya untuk bangkit kembali dari keterpurukannya dan ingin segera sampai ke WTC untuk membuka gerai HP. Ditambah lagi, seekor kura-kura berseragam &#8220;Bukan Express&#8221; yang tadi disalipnya kini sudah berjalan melewati tempat ia duduk. &#8220;Masa&#8217; Batman kalah cepet ama kura-kura&#8221;, pikir Batman dalam hati. Penasaran, ia mendekati Mbah Gendeng dan mengintip kerjanya.</p>
<p>&#8220;Pantesan aja lama!&#8221;, sergah Batman kasar. &#8220;Lha wong kerjanya lambat banget gini! Apa gak bisa lebih cepet lagi, mbah?!&#8221;</p>
<p>Mbah Gendeng meletakkan ban dalam BatMobile yang sedang ia pegang dan menoleh ke arah Batman. Tatapannya yang tajam membuat Batman secara tidak sadar mundur selangkah ke belakang. Tanpa disangka, dengan tidak kalah kerasnya, Mbah Gendeng balik bertanya, &#8220;Memangnya kamu pikir pekerjaan ini tidak penting sehingga harus dikerjakan dengan terburu-buru?&#8221;</p>
<p>&#8220;Memang begitu, kan? Cuman nambal ban ini, apa pentingnya? Jauh lebih penting pekerjaanku yang ke sana kemari buat nyelamatin dunia dari orang jahat! Mbah tahu kan kalo aku ini Batman?!&#8221;</p>
<p>&#8220;Iye, terus so what gitu loh, mau situ Superman kek, Batman kek, Barack Obama kek, SBY kek, tetep aja, jangan pernah ngeremehin pekerjaan saya!&#8221;</p>
<p>Batman sudah akan membuka mulutnya lagi untuk menjawab, namun kakek tua itu tidak mau kalah cepat dan melanjutkan kata-katanya.</p>
<p>&#8220;Dengarkan baik-baik, anak muda. Coba pikir. Seandainya tadi kamu dalam perjalanan untuk menyelamatkan ribuan orang dan banmu bocor, apa bukan berarti yang saya kerjakan ini tidak sama pentingnya dengan pekerjaanmu? Dengan memperbaiki ban bocormu dengan baik dan teliti, secara tidak langsung saya suda membantu kamu menyelamatkan mereka &#8212; ribuan orang itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak usah muluk-muluk. Setiap ban bocor yang saya perbaiki pasti berhasil membawa pengemudinya tiba dengan selamat sampai di rumah. Coba bayangkan apabila saya melakukannya dengan asal-asalan. Bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Lihat ban dalammu ini&#8221;, Mbah Gendeng menyodorkan dua buah ban dalam BatMobile yang sedang ia kerjakan. &#8220;Perhatikan ini, bekas tambalan yang dilakukan oleh penambal ban sebelumnya. Kasar dan kurang kuat rekatannya. Itu sebabnya tadi ban mobilmu bocor lagi. Masih untung tidak terjadi apa-apa. Dan ini, yang ada di kanan, adalah hasil tambalan ban yang aku lakukan. Bandingkan!&#8221;</p>
<p>Batman tercenung. Ia memperhatikan ban dalam pada bagian yang ditunjukkan oleh Mbah Gendeng dan ternyata memang benar, pekerjaannya kurang baik. Bahkan jauh dibandingkan hasil pekerjaan Mbah Gendeng. Padahal tadi ia cukup senang dan memberi tips lebih kepada penambal ban sebelumnya karena kerjanya hanya butuh waktu 5 menit saja.</p>
<p>Dengan menunduk, Batman mohon maaf kepada <a href="http://dongengmotivasi.com/batman-dan-mbah-gendeng.htm">Mbah Gendeng</a> dan beringsut kembali ke kursi kayu untuk menunggu. Di satu sisi, ia malu terhadap apa yang telah ia lakukan, namun di sisi lain, ia gembira karena mendapat pelajaran baru tentang hidup dan juga tentang bisnis. </p>
<p>&#8220;Aku pasti tidak akan kalah oleh Peter Parker&#8221;, ujar Batman dalam hati sembari tersenyum.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/batman-dan-mbah-gendeng.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>55</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tinggi Menuju Angkasa</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/tinggi-menuju-angkasa.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/tinggi-menuju-angkasa.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 19:17:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan Rufi Rusa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini lanjutan dari kisah sebelumnya&#8230;
(Enam hari setelah Libi Musang kembali ke hutan)
&#8220;Jadi kamu benar-benar ingin pulang sekarang?&#8221;, tanya Libi Musang.
&#8220;Ya,&#8221; jawab Rufi Rusa sambil memasukkan beberapa kantong snack ke dalam tas ransel berwarna hitam miliknya. &#8220;Besok hari ulang tahun Rena, sahabatku. Aku ingin ada di sana pada saat itu. Lagipula, jalan tembus dari hutan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small>Cerita ini lanjutan dari <a href="http://dongengmotivasi.com/aku-kan-juga-masih-mau-hidup.htm">kisah sebelumnya</a>&#8230;</small></p>
<p>(Enam hari setelah Libi Musang kembali ke hutan)</p>
<p>&#8220;Jadi kamu benar-benar ingin pulang sekarang?&#8221;, tanya Libi Musang.</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; jawab Rufi Rusa sambil memasukkan beberapa kantong snack ke dalam tas ransel berwarna hitam miliknya. &#8220;Besok hari ulang tahun Rena, sahabatku. Aku ingin ada di sana pada saat itu. Lagipula, jalan tembus dari hutan ke lembah kan sudah selesai dibangun, jadi apabila aku berlari seharian, pasti besok aku sudah sampai di lembah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, begitu,&#8221; ujar Libi pura-pura acuh.</p>
<p>Tiba-tiba Rufi menghentikan aktivitas beres-beresnya dan menatap ke arah Libi. &#8220;Ngomong-ngomong, luka di badanmu itu karena apa? Bukannya beberapa hari lalu kamu baik-baik aja?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini?&#8221; jawab Libi sambil mengalihkan pandangannya ke seberang. Ada <a href="http://dongengmotivasi.com/pino-dan-poni.htm">dua ekor anak tupai</a> dan induknya sedang berjalan beriringan dengan penuh semangat. Dari tawa dan senyum mereka yang lepas sepertinya mereka sedang bersuka cita. Dengan suara yang agak pelan ia melanjutkan kata-katanya. &#8220;Bukan apa-apa. Hanya lecet sedikit gara-gara terjatuh waktu main futsal dua hari lalu&#8221;</p>
<p><span id="more-54"></span>&#8220;Hmmm,&#8221; Rufi terdiam sejenak dan kemudian menata kembali barang-barang di dalam ranselnya. Ia tidak percaya dengan jawaban Libi karena ia yakin 200% bahwa Libi lah yang mengambil bunga AntiEntupanLebahtus yang ada di dalam hutan semak berduri, memasukkannya ke dalam kotak, dan diam-diam <a href="http://dongengmotivasi.com/aku-kan-juga-masih-mau-hidup.htm">meletakkannya di belakang Rufi</a> pada saat kemarin ia duduk di tepi danau. Namun Rufi menyadari bahwa si musang yang selama ini licik dan hanya mementingkan diri sendiri itu mungkin malu untuk mengakui bahwa ia telah melakukan perbuatan baik.</p>
<p>&#8220;Lenganmu bagaimana?&#8221; tanya Libi. &#8220;Sudah sembuh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah. Nih!&#8221; jawab Rufi sambil menyodorkan lengannya yang dibalut perban. &#8220;Dokter Surip juga kemarin menyarankan untuk membalutnya dengan perban, agar tidak terkena debu dan mempercepat proses penyembuhannya. Ya udah, aku langsung <em><a href="http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm" title="start action">start action</a></em> aja. Daripada bengkak terus-terusan.&#8221;</p>
<p>Libi melirik sekilas ke arah lengan Rufi dan kembali mengarahkan pandangannya ke seberang jalan.</p>
<p>&#8220;Yak, beres sudah,&#8221; ujar RUfi sambil mengencangkan tali pengikat ranselnya dan memanggulnya di punggung. &#8220;Kalau begitu aku pamit dulu ya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, ya, pergi sana. Hati-hati,&#8221; kata Libi, masih dengan gaya yang sok cuek.</p>
<p>&#8220;Libi,&#8221; panggil Rufi lembut.</p>
<p>&#8220;Huh? Apa?&#8221; Libi menolehkan kepalanya ke arah Rufi.</p>
<p>&#8220;Terima kasih banyak ya,&#8221; ujar Rufi sambil tersenyum dan melangkahkan kakinya.</p>
<p>&#8220;Terima kasih? Untuk apa?&#8221;</p>
<p>Rufi tidak menjawab. Ia hanya melambaikan tangannya ke arah Libi dan terus berjalan, atau lebih tepatnya berlari kecil, ke arah perbatasan hutan.</p>
<p>&#8220;Hei!!! Terima kasih untuk apa???&#8221; teriak Libi.</p>
<p>Tak lama kemudian Rufi pun hilang dari pandangan Libi.</p>
<p>&#8220;Dasar rusa bodoh pembohong&#8230;&#8221; gumam Libi lirih.</p>
<hr />
<p>Keesokan harinya, tibalah Rufi di lembah tempat tinggal kelompoknya. Beberapa ekor rusa yang melihat kedatangannya sejenak menghentikan aktivitas mereka untuk menyapa dan menanyakan kabar Rufi. Dengan ramah Rufi membalas sapaan mereka.</p>
<p>&#8220;Halo Rufi, bagaimana kabarmu?&#8221; tanya kakek Tore.</p>
<p>&#8220;Baik, kek. Sebuah perjalanan yang menyenangkan sekaligus memberikan banyak pelajaran bagi hidupku.&#8221;</p>
<p>Kakek Tore tersenyum bangga.</p>
<p>&#8220;<em>Thanks God I&#8217;ve never <a href="http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm" title="stop dreaming">stop dreaming</a></em>,&#8221; ujar kakek Tore sok bule. &#8220;Aku tahu bahwa suatu saat kamu akan menjadi orang yang bijaksana, Rufi.&#8221;</p>
<p>Rufi hanya tersenyum mendengar perkataan kakek Tore. Tiba-tiba ia sadar bahwa dari tadi ia belum melihat Rena. &#8220;Ngomong-ngomong si Rena ada dimana ya, kek? Aku sudah menyiapkan kado untuknya nih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalo tidak salah ia tadi bilang akan berjemur di lapangan rumput sebelah timur lembah. Dari dua hari lalu ia menanyakan kamu loh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, ya?&#8221; jawab Rufi sambil tersenyum. &#8220;Kalau begitu aku segera ke sana, kek.&#8221;</p>
<hr />
<p>Rufi melangkahkan kakinya memasuki lapangan rumput hijau yang hampir seluas lapangan bola itu. Tangan kirinya memegang perban yang membalut lengan kanannya. Meskipun sejak tadi ia terus berusaha untuk ramah dan tersenyum di hadapan rusa-rusa yang lain &#8212; terutama kakek Tore &#8212; sebenarnya dari semalam bekas gigitan lebah EntupanLebahtus yang ada di lengannya terasa membara. Bahkan ia merasakan panas dalam tubuhnya yang seolah menjalar, dari lengan hingga ke ujung kaki dan rambutnya.</p>
<p>Sejenak ia menghentikan langkahnya dan memandang sekelilingnya. Memori saat ia dan Rena sering bermain di lapangan rumput ini bagaikan terputar kembali di pikirannya. Seperti sebuah film pendek.</p>
<p>Tersenyum Rufi melangkahkan kakinya kembali, ke arah pohon beringin besar yang tumbuh di bagian tengah lapangan rumput tersebut. Ia yakin Rena berada di sana. Menunggunya.</p>
<p>&#8220;Lapangan rumput,&#8221; RUfi berujar dalam hati, &#8220;kamu memang menyimpan banyak kenanganku bersama Rena.&#8221;</p>
<p>Sekitar 20 langkah kemudian, pohon beringin besar itu mulai terlihat. Tiba-tiba&#8230;</p>
<p>&#8220;Tolong, ada pemburu,&#8221; teriak Rena sambil berlari kencang ke arah Rufi.</p>
<p>Rufi tersentak dan segera bergegas menyongsong Rena. Matanya menyipit, mencoba mencari tahu dimana lokasi para pemburu yang dimaksud Rena. Ternyata benar, sekitar 100 meter di belakangnya, ada setidaknya 5 orang pemburu berpakaian hijau coklat sedang membidikkan senapannya ke arah Rena.</p>
<p>Sekejab kemudian Rena sudah sampai di tempat Rufi berdiri. Rufi pun membalikkan badannya, bersiap untuk berlari di belakang Rena. &#8220;Ayo Rena, lari sekuat tenaga. Begitu keluar dari lapangan rumput ini kita pasti bisa dengan mudah meloloskan diri dari para pemburu jahat tersebut.&#8221;</p>
<p>Tanpa menghentikan langkahnya Rena menoleh ke arah Rufi dan mengangguk. &#8220;Kamu juga, Rufi.&#8221;</p>
<p>Rufi menjejakkan kakinya ke tanah, mengambil ancang-ancang untuk berlari. Tapi tiba-tiba lututnya terasa lemas. Panas membara. Demikian pula jantungnya yang terasa semakin berdebar dan berdetak kencang. </p>
<p>&#8220;Sepertinya memang sudah waktunya&#8230;&#8221; kata Rufi dalam hati. Ia menatap ke arah Rena berlari dan melihat bahwa sahabat yang dicintainya itu sudah hampir sampai di pinggir lapangan. Ia pun kemudian membalikkan badannya, ke arah para pemburu yang kini sudah semakin dekat dengan dirinya. </p>
<p>Rufi menarik nafas panjang. Ia kerahkan seluruh tenaganya yang tersisa untuk menahan sakit di kakinya dan mulai berlari ke arah para pemburu.</p>
<hr />
<p>Rena hampir menabrak kakek Tore ketika ia berlari melewati tikungan pertama yang ada di dekat lapangan rumput.</p>
<p>&#8220;Ada apa Rena? Kenapa kamu berlari seperti itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada pemburu, kek! Mereka mengejarku dan Rufi!&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa?? Kalau begitu, cepat sembunyi di balik gundukan tanah yang ada di dekat semak belukar itu. Mana Rufi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia ada di bela&#8230;&#8221;</p>
<p>Dorrrr!!!!!</p>
<p>Kata-kata Rena terhenti oleh sebuah suara tembakan yang cukup keras terdengar.</p>
<p>Dorrrr!!!!! Dorrrr!!!!!</p>
<p>Rena dan kakek Tore menatap ke arah lapangan rumput. Mereka terdiam. Meski tahu apa yang mungkin telah terjadi pada Rufi, mereka tetap berdiri di sana dan berharap akan ada keajaiban.</p>
<p>Lapangan rumput yang sempat gaduh ketika ledakan tersebut meletus perlahan-lahan mulai tenang kembali. Sunyi. Hanya ada suara rumput yang bergesekan karena tertiup angin.</p>
<p>Dan dari arah suara tembakan tersebut, tampak seekor kupu-kupu berwarna putih biru terbang melayang. Tinggi menuju angkasa.</p>
<p><small>Kisah ini memang sudah berakhir, tapi masih banyak pertanyaan yang belum terjawab. Benarkah Libi yang diam-diam memberikan bunga AntiEntupanLebahtus kepada Rufi? Jika ya, bagaimana Libi bisa tahu bahwa Rufi menderita penyakit EntupanLebahtus? Siapa sebenarnya para pemburu tersebut? Bagaimana kisah masa lalu Rufi dan Rena? Apa yang kemudian terjadi pada Libi? Seperti apa sebenarnya lebah EntupanLebahtus itu? Siapakah pemenang kontes SEO &#8220;<a href="http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm">Stop Dreaming Start Action</a>&#8220;? Halah, yang terakhir gak nyambung, hehehe. Yang jelas, Anda bisa menemukan semua jawabannya (kecuali yang terakhir itu) nanti di e-book eksklusif <strong>Kumpulan Dongeng Motivasi Jilid 1 &#8211; Petualangan Rufi Rusa</strong>, hanya di <a href="http://dongengmotivasi.com">DongengMotivasi.Com</a>!</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/tinggi-menuju-angkasa.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Kan Juga Masih Mau Hidup</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/aku-kan-juga-masih-mau-hidup.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/aku-kan-juga-masih-mau-hidup.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Sep 2009 10:28:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan Rufi Rusa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Cerita ini lanjutan dari kisah sebelumnya
(lima hari setelah Libi Musang kembali ke hutan)
Rufi Rusa membolak-balik lembar demi lembar buku ensiklopedia kedokteran berukuran besar dengan resah.
&#8220;Hmmmphhh&#8221;, desahnya berat, &#8220;katanya ensiklopedia terlengkap edisi abad 21, tapi dari tadi info tentang tentang EntupanLebahtus ya gitu-gitu aja. Ini malah ada iklan tentang kontes SEO Stop Dreaming Start Action segala. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small>Cerita ini lanjutan dari <a href="http://dongengmotivasi.com/selamat-jalan-rufi-rusa.htm">kisah sebelumnya</a></small></p>
<p>(lima hari setelah Libi Musang kembali ke hutan)</p>
<p>Rufi Rusa membolak-balik lembar demi lembar buku ensiklopedia kedokteran berukuran besar dengan resah.</p>
<p>&#8220;Hmmmphhh&#8221;, desahnya berat, &#8220;katanya ensiklopedia terlengkap edisi abad 21, tapi dari tadi info tentang tentang EntupanLebahtus ya gitu-gitu aja. Ini malah ada iklan tentang kontes SEO <a href="http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm">Stop Dreaming Start Action</a> segala. Buku ensiklopedia gak mutu blas.&#8221;</p>
<p>Rasa kesal dan panik bercampur di hati Rufi. Sudah lima hari berlalu sejak dokter Surip memvonis bahwa ia terkena penyakit EntupanLebahtus yang sangat mematikan itu. Dan artinya, jika dalam waktu dua hari ini ia tidak segera meminum obat penangkalnya, ia akan segera mati.</p>
<p>Dalam waktu lima hari ini Rufi memang tidak tinggal diam. Ia sudah memperoleh enam bunga AntiEntupanLebahtus dari tujuh bunga yang diisyaratkan oleh dokter Surip.</p>
<p><span id="more-48"></span>Bunga pertama ia dapatkan dari seberang sungai, di samping rumah Bu Beri.</p>
<p>Bunga kedua ia peroleh dengan susah payah di bukit timur hutan yang terjal.</p>
<p>Bunga ketiga ia temukan secara tidak sengaja, terinjak ketika ia sedang berjalan ke arah rumah Horas Kuda.</p>
<p>Bunga keempat ia curi dari kebun bunga bu Tutul Macan, ketika beliau sedang pergi ke pasar untuk berbelanja sayuran segar.</p>
<p>Bunga kelima ia rebut dengan paksa dari tangan seekor anak gorila imut yang sedang bermain-main di pinggir danau.</p>
<p>Bunga keenam ia ambil dari kantong saku pak Hori Harimau, setelah sebelumnya memukul kepala beliau dengan sebatang kayu hingga pingsan. </p>
<p>Dengan kesal Rufi melemparkan buku ensiklopedia ke tembok. Meskipun selama ini ia sudah dilatih untuk selalu berpikir tenang dan rasional, kali ini harus diakui bahwa perasaannya cukup panik. Tidak siap rasanya dihadapkan dengan kematian secara tiba-tiba. Apalagi hanya gara-gara masalah sepele &#8212; disengat lebah pada saat menolong dua tupai kecil. Geram hati Rufi jika mengingat kejadian tersebut.</p>
<p>Sekilas ia teringat kembali pada hal-hal yang sudah ia lakukan untuk mendapatkan keenam bunga AntiEntupanLebahtus. Ternyata dokter Surip tidak main-main ketika ia mengatakan bahwa bunga tersebut sulit untuk ditemukan. Separuh dari jumlah bunga yang sudah berhasil ia dapatkan mau tidak mau terpaksa ia peroleh dengan cara yang tidak halal.</p>
<p>Ada rasa bersalah di hati Rufi. Mengingat selama ini kakek Tore selalu mengajarkan agar dirinya mengatasnamakan kebaikan dan kejujuran di atas segalanya. Tapi..</p>
<p>&#8220;Bodo ah,&#8221; kelit Rufi dalam hati, &#8220;kalau aku tidak mengambilnya dengan paksa, darimana lagi aku bisa mendapatkan bunga sialan tersebut&#8221;.</p>
<p>&#8220;Yang jadi masalah sekarang, dimana aku harus mencari sisa satu bunga tersebut. Seluruh hutan dan sekitarnya sudah aku jelajahi dan sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan bunga AntiEntupanLebahtus. Kecuali satu, yang ada di tengah-tengah hutan semak belukar berduri yang tebalnya nyaris mencapai 5 meter. Mana mungkin aku bisa mengambilnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah sudahlah, aku coba jalan-jalan ke arah selatan aja. Siapa tahu hari ini hari keberuntunganku&#8221;.</p>
<hr />
<p>&#8220;Duh, bagaimana ini, dimana lagi kita harus mencarinya?&#8221;</p>
<p>Samar-samar Rufi mendengar suara dari tikungan jalan, sekitar 3 meter dari tempatnya berdiri. Suara yang sepertinya ia kenal. Dan beberapa detik kemudian muncullah dua ekor tupai kecil. Yang satu ekornya bergaris putih dan yang satu punggungnya bertotol hitam.</p>
<p>&#8220;Kak Rufi!!!!&#8221;, teriak kedua tupai tersebut bersamaan.</p>
<p>&#8220;Ah&#8221;, Rufi tidak menyangka Poni dan Pino bakal muncul lagi di hadapannya. Dan terus terang, ia memang tidak ingin bertemu dengan mereka lagi. Reflek ia menyembunyikan kotak berisi bunga AntiEntupanLebahtus di balik punggungnya.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kabarnya, kak?&#8221;, tanya Pino.</p>
<p>&#8220;Baik-baik saja&#8221;, jawab Rufi dengan malas. &#8220;Sedang apa kalian di sini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ini, kak&#8221;, jelas Poni, &#8220;ingat gak bunga yang dulu kakak bantu ambilkan itu?&#8221;</p>
<p>Rufi mengangguk. Ingin rasanya ia meneriakkan &#8220;Inget banget! Gara-gara bunga sialan itu kan aku sekarang jadi sekarat!&#8221; di depan mereka, tapi ia coba menahannya.</p>
<p>&#8220;Yah, waktu itu sebetulnya kami sudah berhasil mengumpulkan bunga dengan jumlah yang ibu kami butuhkan. Tapi kemudian&#8230;&#8221;, Poni menghentikan kata-katanya sambil menahan tangis.</p>
<p>Pino lembut memegang tangan saudaranya. Ia melanjutkan penjelasan Poni yang tertunda, &#8220;tapi kemudian, di tengah jalan kami bertemu dengan seekor monyet tinggi besar, bertato, dan berjambang lebat. Ia memalak kami, tapi berhubung kami tidak punya uang, ia pun marah dan kemudian merampas serta membuang bungkusan yang berisi bunga-bunga yang sudah susah payah kami kumpulkan itu.&#8221;</p>
<p>Rufi tercenung. Ia mencoba mengingat-ingat kembali, jangan-jangan itu monyet yang sama dengan <a href="http://dongengmotivasi.com/pino-dan-poni.htm">yang ia temui</a> bersama Libi. Satu per satu ia pandangi wajah kedua anak tupai yang ada di hadapannya &#8212; yang satu mulai terisak-isak, yang satu mencoba untuk tetap tegar.</p>
<p>&#8220;Lalu bagaimana dengan ibu kalian?&#8221;</p>
<p>&#8220;Untuk saat ini memang masih hidup, kak, tapi jika kami tidak bisa menemukan kembali bunga-bunga itu dalam waktu singkat&#8230;&#8221;</p>
<p>Poni menghentikan kalimatnya di situ. Rufi pun mengangguk lirih, mengisyaratkan bahwa ia sudah mengerti tanpa perlu Poni melanjutkannya. Reflek, kembali ia semakin menyembunyikan kotak bunganya di balik punggung.</p>
<p>&#8220;Kakak bisa membantu kami? Kami sudah mencari kemana-mana tapi tidak ada satupun bunga AntiEntupanLebahtus yang kami dapatkan&#8221;, pinta Pino sambil meraih tangan Rufi.</p>
<p>&#8220;Maaf, aku sedang sibuk,&#8221; jawab Rufi sembari perlahan menepis tangan Pino, &#8220;ada yang harus aku kerjakan sekarang juga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, begitu&#8221;, ujar Poni dan Pino sedih.</p>
<p>&#8220;Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ya. Semoga berhasil menemukan bunganya&#8221;, kata Rufi sambil bergegas melangkahkan kakinya.</p>
<hr />
<p>Di pinggir danau.</p>
<p>&#8220;Huh, enak saja. Sudah bikin hidupku jadi susah, malah mau minta tolong lagi segala&#8221;, ujar Rufi geram, &#8220;aku kan juga masih mau hidup&#8221;. Tangannya menjumput rumput-rumputan yang ada di pinggir danau dan dengan kesal ia lemparkan rumput tersebut ke arah danau.</p>
<p>Rufi menarik nafas panjang, berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia berusaha mengingat-ingat kembali gerakan-gerakan yoga yang pernah diajarkan oleh Tombi Rusa, sahabatnya. Tiba-tiba dari arah barat melintas dua ekor kupu-kupu, terbang rendah di atas danau yang jernih tersebut. Yang satu berwarna kuning emas dengan garis-garis merah, dan yang satunya berwarna biru laut dengan lengkungan-lengkungan 3/4 lingkaran berwarna ungu. Indah sekali.</p>
<p>Mendadak Rufi teringat pesan kakek Tore, beberapa hari lalu saat mereka berdua <a href="http://dongengmotivasi.com/rufi-si-rusa.htm">sedang duduk dan memandangi seekor kupu-kupu</a> di atas danau dekat tempat tinggal kawanan rusa. Ia teringat bahwa sebagian besar spesies kupu-kupu berumur pendek, antara dua hingga empat belas hari saja. Ia pun teringat, bahwa pada saat mengetahui hal itu dari kakek Tore, ia sempat berpikir, jika seandainya ia menjadi kupu-kupu yang berumur pendek tersebut, apa yang sebaiknya ia lakukan.</p>
<p>Dan entah kenapa, tiba-tiba Rufi merasa plong. Perasaan emosi, geram, panik, dan khawatir yang sejak lima hari lalu selalu menghantuinya dalam sekejab terasa sirna. Ia tersenyum dan berbisik, &#8220;Aku tahu apa yang harus aku lakukan&#8221;.</p>
<p>Ia pun segera membalikkan badan, bersiap untuk kembali ke dalam hutan.</p>
<p>&#8220;Aduh!!!&#8221;, Rufi berteriak kaget. Kakinya tersandung sebuah kotak hitam yang entah sejak kapan ada di balik tubuhnya. Ada tulisan &#8220;Untuk Rufi&#8221; di bagian atasnya.</p>
<p>&#8220;Apaan nih?&#8221;, ujar Rufi penasaran.</p>
<p>Perlahan ia membuka tutup kotak hitam tersebut. Agak was-was, jangan-jangan isinya bom. Ia longokkan kepalanya untuk mengintip ke dalam kotak hitam dan isinya adalah&#8230; setangkai bungai AntiEntupanLebahtus.</p>
<p>Dengan agak bingung, Rufi mencoba membolak-balik kotak tersebut, siapa tahu ada informasi mengenai pengirimnya. Tapi nihil. Tidak ada kertas pesan, kartu ucapan, bahkan kartu nama. Hanya ada bunga tersebut dan beberapa helai bulu binatang berwarna coklat tua.</p>
<p>&#8220;Ah, nanti saja aku pikirkan asal bunga ini. Harus buru-buru nih&#8221;, gumam Rufi. Ia mengambil bunga dari kotak hitam tersebut dan memasukkannya ke dalam kotak bunga yang ia bawa. Kini sudah ada tujuh bunga AntiEntupanLebahtus di dalamnya, sesuai dengan jumlah minimal yang dibutuhkan untuk membuat obat penawar penyakit EntupanLebahtus.</p>
<p>Tanpa menunggu lebih lama lagi, Rufi pun berlari dengan kencang ke arah hutan.</p>
<hr />
<p><small>bersambung&#8230;</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/aku-kan-juga-masih-mau-hidup.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Jalan, Rufi Rusa?</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/selamat-jalan-rufi-rusa.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/selamat-jalan-rufi-rusa.htm#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 Aug 2009 17:07:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan Rufi Rusa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini lanjutan dari cerita sebelumnya.
(enam hari sesudah bendungan jebol)
Libi hanya bisa tertegun menyaksikan sambutan penduduk hutan terhadapnya. Wajahnya menunduk 90 derajat. Langkah kakinya terhenti tepat di bawah spanduk besar bertuliskan &#8220;Selamat Datang Kembali, Libi Musang&#8221; yang dipasang penduduk hutan tepat di depan gerbang masuk tempat tinggal mereka. Rufi Rusa mendorongnya perlahan.
&#8220;Ayo sana, jalan. Temui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small><em>Kisah ini lanjutan dari <a href="http://dongengmotivasi.com/soni-semut-dan-kebun-pak-beri.htm">cerita sebelumnya</a>.</em></small></p>
<p>(enam hari sesudah bendungan jebol)</p>
<p>Libi hanya bisa tertegun menyaksikan sambutan penduduk hutan terhadapnya. Wajahnya menunduk 90 derajat. Langkah kakinya terhenti tepat di bawah spanduk besar bertuliskan &#8220;Selamat Datang Kembali, Libi Musang&#8221; yang dipasang penduduk hutan tepat di depan gerbang masuk tempat tinggal mereka. Rufi Rusa mendorongnya perlahan.</p>
<p>&#8220;Ayo sana, jalan. Temui teman-temanmu,&#8221; ujarnya berbisik sambil tersenyum.</p>
<p>Dada Libi terasa sesak. Malu rasanya melangkahkan kaki kembali ke kampung halamannya itu mengingat apa yang pernah ia lakukan selama ini terhadap penduduk hutan yang lain. Apalagi, di belakang pak Beri Beruang, tampak Cabi Babi dan ibunya, bu Gembul Babi, berdiri. Turut menyambut kedatangannya seolah <a href="http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm">tidak pernah terjadi apa-apa sebelumnya</a>.</p>
<p><span id="more-44"></span>Selagi Libi menimbang-nimbang kaki mana yang akan ia langkahkan terlebih dahulu, Kaka Kancil sudah mendatanginya. </p>
<p>&#8220;Halo Libi, kami sudah tidak sabar menunggu kedatanganmu,&#8221; sambutnya sambil menjulurkan tangannya mengajak bersalaman.</p>
<p>&#8220;Uh.. eh.. iya, terima kasih,&#8221; tergagap Libi menyambut uluran tangan Kaka.</p>
<p>Sedetik kemudian, mulailah secara bergantian penduduk hutan datang dan menghampiri Libi. Menyalaminya, menepuk pundaknya, dan menanyakan kabarnya. Semua tampak tulus melakukannya, tanpa ada perasaan dendam, benci, dan sebagainya.</p>
<p>Perut Libi terasa melilit. Ia teringat kembali dengan hal-hal buruk yang sering ia lakukan terhadap penduduk hutan tersebut. Menjaili mereka, menipu mereka, bahkan terkadang mencuri makanan mereka. Dan lilitan itu terasa makin erat saat bu Gembul menghampiri dan memeluknya.</p>
<p>&#8220;Ternyata kamu selamat, nak Libi! Waktu itu aku sama tidak bisa membayangkan bagaimana nasibmu di tengah gelombang air bendungan yang ganas dan deras itu.&#8221;</p>
<p>Libi melirik wajah bundar Cabi yang berdiri di samping ibunya. Sedikit demi sedikit ia memberanikan diri menatap wajah bu Gembul dan berusaha membuka mulutnya.</p>
<p>&#8220;Ma.. ma&#8230; maaf.. maafkan aku,&#8221; ucapnya terpatah, &#8220;waktu itu&#8230; aku sama sekali tidak bermaksud&#8230; mencelakakan Cabi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah, sudahlah,&#8221; jawab bu Gembul. &#8220;Yang penting kan dia selamat. Dan lebih penting lagi, kamu juga sudah kembali ke hutan kita. Mari sama-sama kita lupakan kejadian itu.&#8221;</p>
<p>Libi masih tidak percaya saat bu Gembul mengucapkan kalimat tersebut dengan lembut. Namun ketika beberapa binatang mulai mengerumuninya dan memintanya bercerita mengenai apa yang terjadi selama ini, sedikit demi sedikit perutnya terasa lebih longgar.</p>
<p>Beberapa meter dari tempat Libi berada, Rufi sedang berbicang bersama pak Beri, Soni Semut, bu Beri Berang-Berang, dan beberapa binatang yang menjadi tetua di hutan tersebut. Ia menjelaskan kepada mereka mengenai <a href="http://dongengmotivasi.com/rufi-si-rusa.htm">siapa dirinya</a> dan mengapa ia bisa sampai ikut mengantarkan Libi kembali ke hutan tempat tinggalnya. Pak Beri yang sedikit banyak sudah mengetahui permasalahan tersebut ikut semangat bercerita &#8212; terutama kepada bu Beri yang terus mengangguk-anggukkan kepalanya tanda ia menyimak dengan baik apa yang dikatakan oleh pak Beri.</p>
<hr />
<p>Tak terasa sudah hampir satu jam sejak Rufi dan Libi tiba di hutan tempat tinggal mereka. Sebagian penduduk hutan sudah kembali melanjutkan aktivitas mereka sehari-hari. Hanya tersisa Rufi, pak Beri, bu Beri, serta Libi dan beberapa anak binatang yang serius mendengarkan cerita Libi.</p>
<p>&#8220;Dan ketika <a href="http://dongengmotivasi.com/pino-dan-poni.htm">monyet besar bertato itu marah</a>&#8220;, ujar Libi dengan bersemangat, &#8220;aku pun maju ke depan untuk melindungi Rufi dari serangan si monyet preman itu.&#8221;</p>
<p>Libi berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya. Kini ia sudah tidak canggung lagi berada di situ. Bahkan, ia sangat antusias untuk menceritakan kembali kisah perjalanannya kepada penduduk hutan lain yang mau mendengarkan. Tentu saja dalam versinya sendiri.</p>
<p>Sekilas ia melirik ke arah Rufi, takut jika kawannya ternyata mendengar cerita palsunya itu dan tidak terima. Ternyata, Rufi sedang berpamitan kepada pak Beri dan bu Beri dan selanjutnya melangkah masuk ke dalam hutan.</p>
<p>&#8220;Loh, kemana dia pergi ya?&#8221;, heran Libi dalam hati.</p>
<hr />
<p>&#8220;Jadi bagaimana, dok?&#8221; tanya Rufi cemas.</p>
<p>&#8220;Hmmm&#8230;,&#8221; dokter Surip Burung Hantu mengamati dengan serius benjolan di lengan Rufi. Beberapa saat kemudian ia menggelengkan kepala dengan wajah sedih. Rufi makin cemas melihat sikap dokter Surip.</p>
<p>&#8220;Maaf sekali, nak Rusa. Tampaknya kamu terkena penyakit EntupanLebahtus, sebuah penyakit langka yang disebabkan oleh sengatan lebah GanasBangetus. Jika tidak cepat diobati, dalam waktu tujuh hari nyawamu mungkin sudah tidak akan tertolong lagi.&#8221;</p>
<p>Rufi seakan tidak percaya mendengar ucapan sang dokter. Tertahan ia berkata, &#8220;Lalu bagaimana, dok? Apa yang harus saya lakukan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Begini. Meskipun ini penyakit langka, untung saja masih ada obatnya. Hanya, obatnya tidak mudah dicari dan seperti saya bilang tadi, waktumu hanya sedikit,&#8221; dokter Surip menggeser duduknya dan mengambil sebuah buku berwarna hijau tua dari rak yang ada di sebelah mejanya. Perlahan ia membuka lembar demi lembar buku tersebut hingga akhirnya sampai di sebuah halaman.</p>
<p>&#8220;Ini,&#8221; dokter Surip menunjukkan sebuah gambar bunga berwarna kuning ungu kepada Rufi, &#8220;carilah bunga AntiEntupanLebahtus ini. Bawakan kepada saya minimal tujuh buah bunga dan saya akan segera membuatkan obat untuk penyakitmu itu.&#8221;</p>
<p>Rufi tertegun memandang gambar bunga berwarna kuning ungu tersebut. Mendadak ia teringat pada Pino dan Poni, dua ekor tupai kecil yang sempat ia tolong beberapa hari lalu. Ya, keduanya waktu itu sedang mengumpulkan bunga yang sama.</p>
<p>&#8220;Ingat,&#8221; lanjut dokter Surip, &#8220;waktumu tidak banyak, hanya tujuh hari saja. Bunga ini juga cukup susah dicari karena ia biasa tumbuh di tempat-tempat yang tidak umum, seperti di atas puncak pohon atau di dalam semak belukar. Tapi ada cirinya kok. Biasanya, di tempat bunga itu tumbuh, lebah GanasBangetus banyak berkeliaran. Dan karena bentuk dan warna lebah tersebut cukup unik, cukup mudah untuk mengenalinya.&#8221;</p>
<p>Dokter Surip mengambil sebuah gulungan kertas dari lemari dan menunjukkan gambar seekor lebah kepada Rufi.</p>
<p>&#8220;Seperti inilah bentuk lebah tersebut. Hapalkan dengan baik.&#8221;</p>
<p>Rufi hanya bisa mengangguk pasrah. Pikirannya benar-benar terasa kosong. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa niat baiknya waktu itu untuk menolong Pino dan Poni bisa membawanya ke dalam bahaya seperti sekarang ini. Dengan gontai ia kemudian melangkah keluar ruangan praktek dokter Surip dan membayar ongkos konsultasi kepada nona Agnes Angsa yang sedang membaca buku berjudul &#8220;<a href="http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm">Stop Dreaming Start Action</a>&#8221; sambil berjaga di depan pintu.</p>
<hr />
<p><small><em>bersambung&#8230;</em></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/selamat-jalan-rufi-rusa.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stop Dreaming Start Action</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 16:42:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komik]]></category>
		<category><![CDATA[Stop Dreaming Take Action]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Batman memandang lesu sebuah poster yang tertempel di tembok jalan. Ada tulisan besar &#8220;Stop Dreaming Start Action&#8221; di situ, dengan gambar seorang pria kribo sedang tidur-tiduran di rumput dan memandang ke arah langit, seolah sedang mengkhayal. Tapi ia tidak peduli sama sekali dengan poster tersebut. Bahkan apabila Luna Maya yang menjadi modelnya pun belum tentu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Batman memandang lesu sebuah poster yang tertempel di tembok jalan. Ada tulisan besar &#8220;<strong>Stop Dreaming Start Action</strong>&#8221; di situ, dengan gambar seorang pria kribo sedang tidur-tiduran di rumput dan memandang ke arah langit, seolah sedang mengkhayal. Tapi ia tidak peduli sama sekali dengan poster tersebut. Bahkan apabila Luna Maya yang menjadi modelnya pun belum tentu ia akan berpaling. Maklum, sejak <a href="http://dongengmotivasi.com/spiderman-nyalon.htm">bisnis salonnya gagal</a>, ia memang lebih sering menyendiri. Seakan meratapi kekalahannya oleh Peter Parker si Spiderman. Bahkan job-job mengalahkan penjahat yang acap diterimanya dari komisaris Gordon pun diabaikan. Ia biarkan Nightwing dan Robin mengurusnya.</p>
<p><span id="more-26"></span></p>
<div id="attachment_30" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-30" style="border: 1px solid black; margin: 0pt 0pt 10px 10px;" title="Stop Dreaming Take Action" src="http://dongengmotivasi.com/wp-content/uploads/2009/06/stop_dreaming_start_action-300x199.jpg" alt="Start Action Stop Dreaming" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">Stop Dreaming Take Action</p></div>
<p>Dengan langkah gontai, Batman pun melanjutkan perjalannya ke arah pinggir kota. Tak lama, ia sampai di sebuah tanah lapang. Ada sekitar 10 orang anak kecil bermain bola di sana dengan riang. Berlarian ke sana kemari, berteriak kencang-kencang, meloncat-loncat. Sumpek dengan kegaduhan mereka, Batman pun mencabut rambu stop dilarang parkir yang ada di trotoar dan mengusir anak-anak tersebut dengan paksa.</p>
<p>&#8220;Hus, hus, sana pergi! Jangan bikin ribut di sini&#8221;, teriaknya sambil mengayunkan rambu tanda berhenti tersebut di udara dengan liar.</p>
<p>Teriakan-teriakan gembira kesepuluh anak polos tersebut seketika berubah menjadi teriakan ketakutan. Hanya dalam hitungan sepersekian detik mereka sudah kabur ketakutan sambil menangis meraung-raung.</p>
<p>&#8220;Nah, gini kan enak. Tenang. Aku jadi bisa tidur-tiduran di sini. Siapa tau dapet mimpi indah dan pikiran jadi tenang lagi,&#8221; ujar Batman pada dirinya sendiri, &#8220;<em>sweet dream me</em>&#8220;.</p>
<p>Hanya butuh 5 menit saja bagi Batman untuk tertidur pulas. Dan tak  berapa lama kemudian, cita-citanya terkabul. Ia bermimpi. Mimpi indah pula. Dalam mimpi tersebut, ia menjadi seorang juragan HP yang sukses. Punya konter di mana-mana. Dari yang ada di WTC Surabaya hingga di ITC Roxy Mas Jakarta. Salah satu konternya bernama &#8220;Dream Start&#8221;. Pemasukannya gak tanggung-tanggung&#8230; 100 juta setiap hari!</p>
<p>&#8220;Aduh!&#8221;, mendadak Batman terbangun. Ternyata ia tidur di atas sarang semut merah dan kini ada ratusan semut merah yang sibuk menggigiti tubuhnya. Dari ujung hidung hingga ujung jempol (kalo tidur Batman kebiasaan melepas sepatunya). Untung saja sebagian tubuhnya tertutup baju kebangsaan dan jubah, sehingga hanya beberapa gelintir semut saja yang sukses menzolimi tubuhnya.</p>
<p>Setelah membersihkan tubuhnya dari serbuan semut-semut tersebut, Batman mulai mengingat-ingat kembali mimpinya.</p>
<p>&#8220;Gila, mantap banget mimpiku tadi. TOPBGTSKL. Apalagi GPL, gak pake lama. Begitu start bobok, langsung mimpi. Jadi juragan HP, kaya raya, penghasilan 100 juta per hari. Wew!&#8221;</p>
<p>Ia pun mencatat &#8216;pekerjaan&#8217; yang ia lakukan dalam mimpi tersebut, beserta nominal penghasilannya, ke dalam buku catatan yang selalu ia bawa di balik jubahnya.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, mulai besok aku harus sering tidur-tiduran di lapangan ini. Biar selalu dapet mimpi indah. Kalau perlu lapangan ini aku beli agar anak-anak tadi gak seenaknya saja bermain di sini&#8221;.</p>
<p>Begitulah.</p>
<p>Sejak itu, hampir setiap hari Batman datang dan tidur di lapangan tersebut. Tentu saja dengan terlebih dahulu mengecek apakah tanah yang dijadikan alas tidurnya terdapat sarang semut merah atau tidak. Dan entah kenapa, setiap kali ia tidur di sana ia selalu mendapatkan mimpi-mimpi yang indah. Dari jadi bandar ojek &#8220;Ride Action&#8221;, bos perusahaan &#8220;Don&#8217;t Stop&#8221;, hingga pemilik maskapal &#8220;Start Flying&#8221;. Semuanya berpenghasilan ratusan juta hingga milyaran rupiah!</p>
<hr />Satu bulan kemudian, saat sedang asik Facebook-an di cafe &#8220;Dreaming Dolphin&#8221; pakai Blackberry, Superman datang menghampirinya.</p>
<p>&#8220;Halo gan, apa kabar?&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik, bro,&#8221; jawab Batman sambil mengupdet statusnya di Facebook &#8212; &#8220;lagi cangkruk di cafe&#8221;</p>
<p>Superman mengambil tempat duduk tepat di samping Batman. Ia menyeruput <em>ice coffee latte</em> favoritnya sambil mengatur posisi duduknya agar nyaman.</p>
<p>&#8220;Tahu tidak,&#8221;, ujar Superman, &#8220;denger-denger si laba-laba sekarang bisnis HP loh. Dan gak jauh beda dengan bisnis salonnya, bisnis HPnya pun laris manis tanjung kimpul&#8221;.</p>
<p>Mendadak Batman meletakkan Blackberry-nya. Wajahnya gusar menatap Superman. &#8220;Si Peter Parker sialan itu maksudmu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya lah, masa&#8217; iya dong. Emang siapa lagi superhero di sini yang dijuluki manusia laba-laba alias spiderman?&#8221;, jawab Superman santai.</p>
<p>&#8220;Huh, kalau cuma bisnis HP sih aku juga bisa,&#8221;, ujar Batman ketus.</p>
<p>&#8220;Oh ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya,&#8221; jawab Batman. Ia mengeluarkan buku catatannya dan menunjukkan pada Superman. &#8220;Tuh lihat, gak hanya bisnis HP, bahkan bisnis laundry, bisnis tiket pesawat, bisnis antar jemput anak sekolah, sampai bisnis VCC Paypal. Semuanya sukses. Penghasilan berlimpah. Kalau ditotal, penghasilan sehari aja bisa beli selusin rumah mewah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wow,&#8221; Superman berteriak tertahan. Kagum. Kemarin untuk <a href="http://dongengmotivasi.com/superman-dan-laptop-barunya.htm">beli laptop</a> aja ia harus bersusah payah. Ini si kelelawar, ditinggal fesbukan aja bisnisnya bisa jalan lancar.</p>
<p>&#8220;Ngomong-ngomong,&#8221; ujar Superman, &#8220;emang dimana gerai HPmu? Kebetulan aku mo ganti HP nih. Yang ini batereinya bocor, sering low-bat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Gerai? Gak ada tuh,&#8221; jawab Batman pede.</p>
<p>&#8220;Loh kok? Lha terus bisnis HPmu gimana kok bisa tanpa gerai? Apa punya online store? Ato buka lapak di kaskus?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gak. Itu kan ada di mimpiku. Kalau mau sukses, aku tinggal mimpi aja. Beres. Gak pake ribet. Gak pake repot.&#8221;</p>
<p>Superman bengong mendengar jawaban Batman. Sejenak kemudian ia berkata dengan lirih ke arah sahabatnya, &#8220;Bro.. kalau cuman dalam mimpi seperti itu&#8230; terus dimana letak kesuksesannya? Itu kan fana, bukan nyata. Apa yang bisa dibanggain dari situ?&#8221;</p>
<p>Batman terdiam mendengar perkataan Superman. Ia tercenung. Sejak kalah dari Peter Parker, mentalnya memang langsung down. Ia takut mulai berbisnis lagi. Takut gagal. Motonya sekarang: lebih baik <em>stop</em> bisnis daripada <em>start action</em> tapi gagal. Tapi kata-kata Clark Kent barusan seolah menyadarkannya. Kalau cuman mimpi, apa yang bisa dibanggain? Dimana letak kesuksesannya?</p>
<p>Superman kembali menyeruput kopinya. Ia diam, memberikan waktu pada Batman untuk berpikir.</p>
<p>&#8220;Iya ya,&#8221; Batman akhirnya buka suara, &#8220;ternyata selama beberapa waktu terakhir ini tindakanku salah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jelas dong,&#8221; sahut Superman, &#8220;agar bisa bener-bener sukses, kita harus berhenti bermimpi dan start action. Kalau kata si <a href="http://www.jokosusilo.com/2009/04/17/cukup-fokus-pada-tiga-langkah-teruji-menghasilkan-uang-melimpah-di-internet/">Joko Susilo</a>, stop dreaming start action. Gagal, kalah, meleset dari target, itu semua wajar. Yang perlu diingat, apabila kita <em>take action</em>, kita punya kesempatan untuk SUKSES. Tapi apabila kita <em>just dreaming</em>, kita pasti akan GAGAL. Sesimpel itu. Jangan sampai kebalik seperti kamu sekarang, start dreaming stop action&#8230;&#8221;</p>
<p>Batman mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju. Ia merobek-robek buku catatan mimpinya sebagai tanda bahwa ia agak segera berubah.</p>
<p>&#8220;Kalau begitu, aku mau pergi dulu ya&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh kemana?&#8221;, tanya Superman heran.</p>
<p>&#8220;Mau cari stand kosong di WTC Surabaya, buat buka gerai HP. Kan tadi katanya harus segera <a href="http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm">action dan action</a>. Ya kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, sip kalo gitu. Semoga sukses ya gan! <em>Don&#8217;t stop until you succeeded</em>&#8221;</p>
<p>Dan Batman pun langsung ngacir memacu kendaraanya. Menuju ke arah Surabaya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/stop-dreaming-start-action.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>253</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Superman Dan Laptop Barunya</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/superman-dan-laptop-barunya.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/superman-dan-laptop-barunya.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Mar 2009 14:31:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Brakkkkk!!!! Seseorang bertubuh besar dan bertato naga terlempar ke sudut ruangan. Sepucuk pistol yang tadi ia genggam terjatuh, berputar-putar di bawah meja marmer. Sesosok tubuh dengan pakaian berwarna merah biru mendekat dan mengangkat tubuh pria tersebut ke udara.
&#8220;Sudah menyerah?&#8221;, ujarnya.
Pria bertato tersebut memandang ke bawah, kepada huruf S besar yang terpampang di baju si merah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-thumbnail wp-image-21" style="border: 1px solid black; margin: 10px;" title="superman-dccomics-art" src="http://dongengmotivasi.com/wp-content/uploads/2009/03/superman-dccomics-art-150x150.jpg" alt="superman-dccomics-art" width="150" height="150" />Brakkkkk!!!! Seseorang bertubuh besar dan bertato naga terlempar ke sudut ruangan. Sepucuk pistol yang tadi ia genggam terjatuh, berputar-putar di bawah meja marmer. Sesosok tubuh dengan pakaian berwarna merah biru mendekat dan mengangkat tubuh pria tersebut ke udara.</p>
<p>&#8220;Sudah menyerah?&#8221;, ujarnya.</p>
<p>Pria bertato tersebut memandang ke bawah, kepada huruf S besar yang terpampang di baju si merah biru tadi. Dengan lunglai ia menganggukkan kepalanya. Dengan tersenyum penuh kemenangan, si baju merah melemparkan pria besar tadi ke arah beberapa orang polisi yang dari tadi mengawasi aksi mereka. Dengan sigap mereka memborgol tangannya dan membawanya pergi menuju mobil polisi.</p>
<p><span id="more-18"></span>&#8220;Aksi yang bagus, Superman&#8221;, seorang polisi gemuk memujinya.</p>
<p>&#8220;Ah, sudah biasa kok. Masalah kecil ini. Tidak perlu dibesar-besarkan, pak Kepala Polisi&#8221;, jawab Superman merendah. &#8220;Kalau begitu aku pergi dulu ya, ada janji makan tempe penyet nih ama Louis Lane&#8221;.</p>
<p>&#8220;Eh tunggu sebentar&#8221;, cegah pak Kepala Polisi. Ia merogoh saku bajunya, yang tampak agak kekecilan, dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna coklat. Lanjutnya, &#8220;Begini Man, saya dan walikota Metropolis sudah sepakat, mulai sekarang, setiap akhir bulan, kita akan memberimu gaji. Yah, tidak banyak sih, tapi setidaknya cukup untuk mengganti jerih payahmu selama ini dalam membantu menjaga keamanan di kota ini&#8221;.</p>
<p>Superman tertegun. Ia sama sekali tidak menyangka pak Kepala Polisi akan melakukan hal tersebut. Dengan terbata, ia menolaknya secara halus. &#8220;Tidak perlu, pak. Anda kan tahu kalau aku tulus dalam membela yang benar dan mengalahkan yang salah&#8221;.</p>
<p>&#8220;Iya, saya tahu. Tapi tidak ada salahnya kan? Lagipula kamu kan juga butuh uang untuk biaya hidup sehari-hari&#8221;.</p>
<p>Superman pun akhirnya menerima amplop tersebut. Dan sejak hari itu, resmi setiap akhir bulan ia menerima gaji dari pak Kepala Polisi.</p>
<hr />3 bulan kemudian&#8230;</p>
<p>Clark Kent termenung di depan etalase sebuah toko komputer. Matanya menatap penuh hasrat pada sebuah laptop high-end merk ternama yang berukuran 16.4 inci itu. Ia ingin sekali membelinya, namun apa daya, upahnya selama ini di Daily Planet cukup pas-pasan. Ditambah lagi, biaya kencan dengan Louis yang tidak murah.</p>
<p>&#8220;Hmmm, tunggu sebentar&#8221;, pikir Clark, &#8220;setiap bulan kan aku menerima gaji dari kota ini. Dan dari dulu hingga sekarang pun aku setia mengabdi di Metropolis. Sama sekali tidak pernah terlintas di benakku untuk meninggalkan Metropolis. Mending aku minta supaya gajiku selama 6 bulan berikutnya di bayar di muka. Itu pasti cukup untuk membeli laptop beserta tambahan mouse dan mousepad bergambar Mickey Mouse yang imut itu.&#8221;</p>
<p>Begitulah. Clark bergegas berganti kostum menjadi Superman dan segera meluncur ke kantor polisi, menemui pak Kepala Polisi. Pada awalnya pak Kepala Polisi keberatan untuk memenuhi permintaan Superman, namun akhirnya ia pun luluh, mengingat bahwa bukan satu dua kali Superman menyelamatkan nyawanya.</p>
<p>Dan sore itu juga, di meja kamar kos-kosan Clark Kent sudah tergeletak dengan manis sebuah laptop 16.4 inci, mouse bermotif polkadot, dan mousepad bergambar Mickey Mouse&#8230;.</p>
<hr />1 bulan kemudian&#8230;</p>
<p>&#8220;Aaargghhh, bagaimana ini???&#8221;, teriak pak Kepala Polisi sambil memegang kepalanya. Wajahnya pucat dan tegang. &#8220;Superman masih belum datang juga?&#8221;</p>
<p>&#8220;Belum pak&#8221;, jawab seorang polisi, &#8220;saya sudah berusaha menghubungi HPnya, tapi selalu dialihkan. Saya coba message di YM pun tidak dibalas.&#8221;</p>
<p>Dorrr. Dorrr. Dorrr.</p>
<p>Dari seberang jalan terdengar suara tembakan silih berganti. Untuk kesekian kalinya dalam 2 minggu terakhir ini, kawanan perampok bank beraksi. Dan untuk kesekian kalinya pula, Superman tidak datang.</p>
<p>&#8220;Coba hubungi terus&#8221;, perintah pak Kepala Polisi panik kepada anak buahnya.</p>
<hr />Malam harinya&#8230;.</p>
<p>Tok, tok, tok.</p>
<p>&#8220;Huh, siapa sih itu? Ganggu aja orang lagi sibuk ini&#8221;, gerutu Clark sembari bergegas ke arah pintu.</p>
<p>&#8220;Kemana aja kamu selama ini?&#8221;, bentak Louis begitu pintu terbuka. &#8220;Sudah 2 minggu terakhir ini aku mencarimu. Tidak ada kabar, tidak ada pesan. Dan bukan cuma aku, nih lihat, seluruh Metropolis pun demikian&#8221;.</p>
<p>Clark mengulurkan tangannya, menerima koran yang disodorkan Louis. Terpampang tulisan besar di halaman depan, &#8220;Superman Kabur Dari Tanggungjawab&#8221;. Ia menelan ludahnya, sama sekali tidak menyangka bahwa akan terjadi hal yang seperti itu.</p>
<p>&#8220;Anu&#8221;, jawabnya lirih, &#8220;aku sibuk main game dengan laptopku yang baru. Kartu VGA-nya kan keren, Louis, 512MB pula memorinya. Bisa buat main Far Cry ama Crysis dengan mulus. Belum lagi ada koneksi WiFi-nya. Aku jadi bisa Facebook-an bareng Batman dan Wonder Woman&#8230;&#8221;.</p>
<p>Louis menggelengkan kepalanya, menatap prihatin ke arah pria yang dulu pertama kali ia temui sebagai Superman.</p>
<p>&#8220;Bukan itu masalahnya. Yang jadi masalah, sejak memiliki laptop itu, kamu jadi melupakan tugasmu untuk menjaga Metropolis. Kamu juga tidak pernah jalan bareng aku lagi. Tahu tidak, tadi siang juga ada perampokan bank besar-besaran. Dan kalau saja Steel tidak segera datang, pasti mereka sudah berhasil kabur untuk kesekian laginya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Loh bukankah Steel sedang berlibur ke Bali?&#8221;, tanya Clark.</p>
<p>&#8220;Memang! Tapi begitu pak Kepala Polisi menghubunginya dan meminta pertolongan, ia segera terbang ke Metropolis. Itu namanya pahlawan yang bertanggungjawab!&#8221;.</p>
<p>Clark terdiam. Ia mencoba mengingat-ingat kembali apa yang telah terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini dan ia pun akhirnya sadar. Semenjak ia digaji oleh kota Metropolis, lambat laun ia merasa bahwa tanggungjawabnya sejajar dengan gaji tersebut. Pada saat ia mendapatkan gaji di muka, ia pun kehilangan rasa tanggungjawab terhadap kewajiban yang sudah ia emban selama ini. Ditambah lagi dengan keberadaan laptop barunya.</p>
<p>&#8220;Maafkan aku, Louis. Aku sadar akan kesalahanku dan mulai hari ini aku akan berusaha untuk memperbaikinya&#8221;.</p>
<p>Louis tersenyum dan memeluk pria yang dicintainya itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/superman-dan-laptop-barunya.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soni Semut dan Kebun Pak Beri</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/soni-semut-dan-kebun-pak-beri.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/soni-semut-dan-kebun-pak-beri.htm#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 08:05:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan Rufi Rusa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini lanjutan dari cerita sebelumnya.
(Tiga hari sebelum bendungan jebol)
Soni Semut melangkahkan kakinya dengan bersemangat ke arah kebun Pak Beri Beruang. Kemarin, pak Beri menjanjikan pekerjaan di kebunnya. Kebetulan sekali karena memang sudah 4 minggu terakhir ini Soni resmi menjadi pengangguran. Uang simpanannya pun sudah ludes gara-gara dipakai untuk bermain forex.
&#8220;Hei Soni, di sini!&#8221;, panggil [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Kisah ini lanjutan dari <a href="http://dongengmotivasi.com/pino-dan-poni.htm">cerita sebelumnya</a>.</em></p>
<p>(Tiga hari sebelum <a href="http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm">bendungan jebol</a>)</p>
<p><strong>Soni Semut</strong> melangkahkan kakinya dengan bersemangat ke arah kebun <strong>Pak Beri Beruang</strong>. Kemarin, pak Beri menjanjikan pekerjaan di kebunnya. Kebetulan sekali karena memang sudah 4 minggu terakhir ini Soni resmi menjadi pengangguran. Uang simpanannya pun sudah ludes gara-gara dipakai untuk bermain forex.</p>
<p>&#8220;Hei Soni, di sini!&#8221;, panggil pak Beri dari kejauhan.</p>
<p><span id="more-15"></span>Soni segera berlari kecil ke arah tengah kebun, tempat pak Beri berdiri.</p>
<p>&#8220;Akhirnya datang juga kamu&#8221;, ujar pak Beri ramah, &#8220;Bagaimana, yakin mau bekerja di kebunku ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yakin pak! Lagipula ya mau gimana lagi, kalau gak kerja, aku gak tahu besok-besok mau makan apa. Uang di kantong cuman cukup untuk makan hari ini aja. Itu pun sekedar untuk beli nasi dan kecap.&#8221;, jawab Soni Semut memelas.</p>
<p>&#8220;Baiklah kalo begitu. Kamu ingat kan apa yang harus kamu lakukan? Seperti yang kamu lihat sendiri, di bagian sebelah barat kebun ini banyak pohon-pohon beringin yang tumbuh. Aku ingin pohon-pohon tersebut ditebang dan disingkarkan, agar aku bisa segera menyiangi dan menanami seluruh kebun ini dengan wortel.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siap bos!&#8221;, tegas Soni sembari menurunkan tas ransel dari balik punggungnya dan mengeluarkan sebuah kapak yang tampak berkilau memantulkan sinar matahari. &#8220;Semalaman aku sudah mengasah kapak warisan kakek moyangku ini. Aku yakin tidak butuh waktu lama untuk menebang pohon-pohon tersebut.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bagus kalo begitu. Jadi seperti penjanjian kita kemarin, aku akan membayarmu berdasarkan jumlah pohon yang kamu tebang ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya pak. Aku segera mulai bekerja sekarang!&#8221;, jawab Soni sambil melangkahkan kakinya ke arah barat.</p>
<hr />
<p>(Lima hari sesudah bendungan jebol)</p>
<p><strong>Rufi Rusa</strong> berjalan gontai sambil mengusap-usap lengan kirinya. Bekas gigitan lebah beberapa waktu lalu terasa semakin gatal dan nyeri. Benjolannya pun juga terlihat semakin besar dan berwarna merah.</p>
<p>&#8220;Lengan kirimu tampak seperti lengan Popeye&#8221;, celetuk <strong>Libi Musang</strong> tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Ah kamu bisa aja&#8221;, kata Rufi, &#8220;Gak tau juga nih kenapa. Mungkin begitu sampai hutan tempat tinggalmu aku akan memeriksakannya pada dokter&#8221;.</p>
<p>Libi tidak menjawab. Ia kembali sibuk dengan pikirannya sendiri. Semain dekat dengan hutan tempat tinggalnya, jantungnya semakin berdegap kencang. Ia tahu kemarin ia sudah membuat si kecil <strong>Cabi Babi</strong> celaka dan terus terang ia ketakutan membayangkan reaksi binatang-binatang di sana jika tahu ternyata ia masih selamat dan berani kembali ke hutan tersebut.</p>
<p>&#8220;Hei lihat&#8221;, ujar Rufi menunjuk papan informasi arah yang ada di pinggir jalan, &#8220;kita sudah sampai di km15 nih. Berarti besok sore paling lambat kita sudah sampai di hutan tempat tinggalmu.&#8221;</p>
<p>Rufi menatap ke arah Libi yang tampak lesu. &#8220;Kenapa sih kamu ini? Sudah dekat dengan tujuan kok malah tambah tidak bersemangat. Bukannya kamu ingin cepat-cepat sampai agar tidak perlu terus berjalan bersamaku lagi?&#8221;</p>
<p>Libi membisu. Rufi pun terdiam, kebingungan melihat sikap musang itu.</p>
<p>Beberapa saat kemudian, dari kejauhan terdengar suara <del datetime="2009-03-21T04:52:29+00:00">orang</del> binatang sedang bercakap-cakap. Yang satu suaranya cukup berat. Ketika jarak tinggal beberapa meter, terlihat bahwa yang sedang berbicara adalah seekor beruang dan seekor semut yang sedang membawa kapak besar. Sadar ada yang datang, kedua binatang tersebut menoleh ke arah Rufi dan Libi.</p>
<p>&#8220;Loh, Libi? Libi Musang???&#8221;, si beruang itu tampak kaget melihat sosok Libi. &#8220;Kamu selamat?&#8221;</p>
<p>Libi mengerutkan badannya dan takut-takut menatap ke arah si beruang. &#8220;I&#8230; i&#8230; iya, pak Beri. Aku baik-baik saja&#8221;.</p>
<p>&#8220;Wah, bagus lah kalau begitu. Begitu mendengar kabar kamu hanyat terbawa arus bendungan, aku sudah khawatir akan keselamatanmu&#8221;, ujar pak Beri lega. &#8220;Teman-teman di hutan juga mengkhawatirkanmu loh. Ya kan Soni?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya Libi&#8221;, jawab Soni Semut. &#8220;Untung saja kamu ternyata tidak apa-apa&#8221;.</p>
<p>Libi hanya terdiam. Ia masih sulit percaya bahwa binatang-binatang di hutan mengkhawatirkan dirinya. Apalagi dia sadar bahwa selama ini sifat dan kelakukannya terhadap penduduk hutan tidak bisa dibilang baik.</p>
<p>&#8220;Perkenalkan, aku Rufi&#8221;, ujar Rufi sembari menyodorkan tangannya, bergantian ke arah pak Beri dan Soni. &#8220;Kebetulan waktu itu Libi terdampar di daerah tempat tinggal kelompok rusa, jadi aku mewakili teman-teman yang lain membantu mengantarkan Libi kembali ke kampung halamannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baik sekali kamu Rufi. Hutan kami sudah dekat kok, tinggal beberapa km lagi. Tapi karena sekarang sudah sore, mungkin besok siang kalian baru sampai di sana. Eh ngomong-ngomong, mau beristirahat sebentar? Kebetulan aku bawa bekal makanan dan minuman, cukup untuk kita nikmati bersama.&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, jadi gak enak nih pak&#8221;, senyum Rufi.</p>
<p>&#8220;Ah sudah, santai saja. Teman Libi adalah teman kami juga kok&#8221;.</p>
<p>Pak Beri dan Soni kemudian membagikan bekal yang mereka bawa kepada Rufi dan Libi. Lumayan lengkap, ada nasi bungkus, tahu tempe penyet, pisang, apel, dan susu. Dengan penuh semangat Rufi melahap makanan tersebut. Beda dengan Libi yang ogah-ogahan menyendoknya.</p>
<p>&#8220;Oh iya, pak&#8221;, tiba-tiba Rufi berkata, &#8220;tadi kami dengar sepertinya kalian berdua sedang membahas suatu hal yang seru yah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh itu,&#8221; jawab pak Beri sambil meraih sebuah apel merah, &#8220;Nggak juga sih. Aku hanya memberi sedikit nasihat kepada si Soni ini.&#8221;</p>
<p>Soni menundukkan kepalanya, malu.</p>
<p>&#8220;Begini&#8221;, papar Soni, &#8220;sebenarnya sudah seminggu ini aku bekerja di kebun pak Beri. Menebang pohon-pohon beringin itu&#8221;, tangan Soni menunjuk ke arah barat kebun. &#8220;Hari pertama semuanya lancar, aku berhasil menebang 5 pohon sekaligus. Namun ternyata, di hari-hari berikutnya, jumlah pohon yang aku tebang malah terus menurun. Hari ini bahkan tidak ada sama sekali. Padahal, aku sudah bekerja dan berusaha lebih keras. Pagi hari sebelum berangkat kerja pun aku minum minuman penambah stamina ini&#8221;, lanjut Soni sambil mengeluarkan botol minuman bergambar dua banteng dari tas ranselnya.</p>
<p>&#8220;Wah, kok bisa begitu,&#8221; tanya Rufi heran. &#8220;Bukankah semakin serius dan semakin keras kita bekerja, maka hasilnya juga akan semakin bagus&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya begitulah,&#8221; jawab Soni Semut, &#8220;aku juga heran. Sampai akhirnya tadi pak Beri memberi pencerahan kepadaku&#8221;.</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa pak? Apa yang salah dengan yang dilakukan Soni?&#8221;, tanya Rufi penasaran.</p>
<p>Pak Beri tersenyum. &#8220;Jadi sebenarnya begini&#8221;, tangannya meraih buah pisang berwarna kuning keemasan, &#8220;Soni ini terlalu bersemangat dalam bekerja hingga ia melupakan satu hal yang penting.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Istirahat&#8221;, jawab pak Beri. Lanjutnya, &#8220;Karena hanya memikirkan kerja, setiap sampai di rumah ia langsung tidur dan besoknya langsung bekerja lagi. Padahal sebenarnya beristirahat juga penting. Apalagi pada bidang pekerjaan yang sedang ia lakukan saat ini. Gara-gara tidak mau beristirahat, ia juga lupa untuk mengasah kapaknya. Kapak yang sering dipakai kan semakin lama akan semakin tumpul, sehingga harus sering diasah. Karena Soni mengabaikannya, maka, meskipun sudah berusaha lebih keras pun hasilnya sama saja atau bahkan lebih buruk.&#8221;</p>
<p>Rufi dan Soni mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.</p>
<p>&#8220;Ternyata terlalu rajin bekerja juga tidak baik ya?&#8221;, tanya Rufi sambil merenung.</p>
<p>&#8220;Ya begitulah&#8221;, jawab pak Beri sambil mengambil jatah buah apel dan pisang milik Libi yang sepertinya tidak ada tanda-tanda untuk dimakan.</p>
<p>Ketiga binatang tersebut pun kemudian sibuk mengobrol, membiarkan Libi yang merenung sendiri. Tiba-tiba terdengar suara lagu Kerispatih dari balik saku celana pak Beri.</p>
<p>&#8220;Sebentar ya&#8221;, ujarnya sambil mengeluarkan hape Blackberry Bold dari sakunya. Ia pun berdiri dan sedikit menjauh dari tempat mereka makan untuk menerima telpon tersebut. Tanpa disadarinya, selembar kertas ikut tertarik keluar dari saku celananya dan jatuh di depan Rufi.</p>
<p>&#8220;Apa nih?&#8221;, tanya Rufi. Ia mengambil kertas tersebut dan di baliknya terlihat foto pak Beri sedang berdua dengan seekor berang-berang. Soni dan Libi melirik ke gambar yang ada di foto tersebut dan spontan mereka berdua menahan nafasnya. Kaget.</p>
<p>Belum sempat Rufi bertanya kepada Libi dan Soni mengenai foto tersebut, pak Beri datang menghampiri dan segera mengambil foto tersebut dari tangan Rufi.</p>
<p>&#8220;Ini bukan apa-apa&#8221;, ujarnya gugup.</p>
<p>Libi dan Soni pura-pura tidak tahu dan meneruskan makannya, sementara Rufi langsung terdiam. Sadar bahwa apa yang dilihatnya barusan mungkin sesuatu yang bersifat pribadi dan bukan termasuk urusannya.</p>
<p>Sekitar 15 menit kemudian mereka berpisah. Rufi dan Libi melanjutkan kembali perjalanannya ke arah hutan, sedang pak Beri dan Soni meneruskan bekerja di kebun pak Beri.</p>
<hr />
<p><small>bersambung&#8230;</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/soni-semut-dan-kebun-pak-beri.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pino dan Poni</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/pino-dan-poni.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/pino-dan-poni.htm#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 14:10:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan Rufi Rusa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini lanjutan dari cerita sebelumnya.
&#8220;Huh, kenapa sih aku harus jalan bareng kamu?&#8221;, gerutu Libi Musang.
Rufi Rusa melirik ke arah Libi sambil terus melangkahkan kakinya. &#8220;Sepertinya itu sudah ke 1037 kalinya kamu bilang begitu?&#8221;.
&#8220;Huh&#8221;, dengus Libi.
Kemarin malam, begitu Libi siuman dan menceritakan tempat tinggalnya, Kakek Tore memang meminta Rufi untuk menemaninya kembali ke dataran di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small><em>Kisah ini lanjutan dari <a href="http://dongengmotivasi.com/rufi-si-rusa.htm">cerita sebelumnya</a>.</em></small></p>
<p>&#8220;Huh, kenapa sih aku harus jalan bareng kamu?&#8221;, gerutu Libi Musang.</p>
<p>Rufi Rusa melirik ke arah Libi sambil terus melangkahkan kakinya. &#8220;Sepertinya itu sudah ke 1037 kalinya kamu bilang begitu?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Huh&#8221;, dengus Libi.</p>
<p>Kemarin malam, begitu Libi siuman dan menceritakan tempat tinggalnya, Kakek Tore memang meminta Rufi untuk menemaninya kembali ke dataran di atas air terjun. Meskipun tidak terlalu berbahaya, namun daerah tersebut tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Minimal butuh 4-5 hari perjalanan.</p>
<p><span id="more-9"></span>&#8220;Yah untuk ke-1037-kalinya,&#8221; jawab Rufi, &#8220;aku jelaskan bahwa keberadaanku di sini adalah untuk menemanimu kembali ke daerah asalmu&#8221;.</p>
<p>Libi cuek, pura-pura tidak mendengar sambil melempar-lempar ranting pohon yang ia pungut sebelumnya ke udara, seperti seorang mayoret.</p>
<p>&#8220;Aduh!!!!&#8221;, dari atas tiba-tiba terdengar suara lantang.</p>
<p>Libi dan Rufi serentak menoleh ke atas. Terlihat, ada seekor monyet tinggi besar, bertato, dan berjambang lebat, sedang mengelus-elus kepalanya. Ternyata, lemparan ranting Libi secara tidak sengaja mengenai kepala si monyet preman ini.</p>
<p>&#8220;Siapa tadi yang melempar ranting ini?&#8221;, teriak si monyet.</p>
<p>&#8220;Dia!&#8221;, jawab si Libi spontan, sambil menudingkan jari ke arah Rufi.</p>
<p>Rufi terlompat kaget. &#8220;Hah?! Bukannya kamu yang tadi bermain ranting?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan kok, dia, suer&#8221;, Libi masih keukeuh berdalih, sambil melangkah mundur setapak demi setapak.</p>
<p>Si monyet besar melirik tajam ke arah Rufi&#8230;. kemudian ke arah Libi&#8230; balik lagi ke Rufi&#8230; dan ke Libi&#8230;.</p>
<p>&#8220;Huh, aku tidak peduli siapa yang sebenarnya tadi melempariku dengan ranting. Pokoknya sekarang, berikan tas pinggang kalian kepadaku. Cepat!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak bisa,&#8221;, jawab Rufi, &#8220;ini kan punyaku. Lagipula, isinya adalah bekal makanan kita&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tidak peduli!!!&#8221;, teriak si monyet. Makin lantang. &#8220;Cepat berikan!!!&#8221;, ujar si monyet sambil menggulung lengan bajunya, siap-siap akan menggebuki Rufi dan Libi.</p>
<p>Libi yang badannya sudah semakin gemetar, melepaskan tas pinggangnya, dan melemparkannya ke arah si monyet. Setelah itu, ia pun menggeser dirinya mundur, bersembunyi di belakang punggung Rufi.</p>
<p>Rufi menghela nafas. &#8220;Sudahlah,&#8221; ujar Rufi dalam hati, &#8220;daripada harus ribut-ribut, sebaiknya mengalah saja&#8221;. Ia pun turut memberikan tas pinggangnya.</p>
<p>&#8220;Begitu dong&#8221;, ujar si monyet seraya tersenyum bengis. &#8220;Sudah sana pergi, jangan sampai muncul di hadapanku lagi!&#8221;.</p>
<hr />
<p>&#8220;Laparrrrrrr&#8221;, gerutu Libi sambil memegangi perutnya.</p>
<p>&#8220;Huh, emang gara-gara siapa tadi, sampai makanan bekal kita jadi hilang semua&#8221;</p>
<p>Libi pura-pura tidak mendengar sambil terus memainkan wajah cemberutnya.</p>
<p>Brakkkk! Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari balik pohon di depan Libi dan Rufi. Penasaran, keduanya melongok dan melihat ada dua ekor tupai kecil. Yang satu, dengan garis putih di ekornya, sedang meringis kesakitan sembari memegang pantatnya. Yang lain, yang bertotol-totol hitam, memegang tangan si putih dan membantunya berdiri.</p>
<p>&#8220;Ada apa?&#8221;, tanya Rufi, &#8220;Kalian terjatuh?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya kak rusa&#8221;, jawab tupai putih, &#8220;aku mau mengambil bunga kuning ungu yang ada di bagian atas pohon ini, tapi karena terlalu tinggi, aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh&#8221;.</p>
<p>&#8220;Memang untuk apa bunga itu?&#8221;, Rufi mulai penasaran.</p>
<p>Tupai totol hitam maju dan menjawab, &#8220;Anu kak, untuk mengobati ibu kami. Kata dokter, ia terkena penyakit langka yang hanya bisa disembuhkan dengan memakan sari bunga tersebut. Kami butuh 7 buah bunga tersebut agar bisa mendapatkan takaran yang cukup bagi ibu kami&#8221;.</p>
<p>Rufi terharu. Kedua tupai ini, meskipun masih kecil, berusaha keras untuk membantu ibu mereka yang sedang sakit. Ia melirik ke arah Libi, mencoba melihat reaksinya. Tapi si musang bandel itu ternyata sedang asik ngupil.</p>
<p>&#8220;Baiklah, aku akan membantumu&#8221;, kata Rufi sambil tersenyum ke arah tupai-tupai kecil tersebut.</p>
<p>&#8220;Sungguh kak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, tunggu sebentar ya?&#8221;, jawab Rufi sambil mengambil ancang-ancang untuk naik ke pohon.</p>
<p>&#8220;Buang-buang waktu aja sih&#8221;, gumam Libi, &#8220;Mending kan kita jalan terus, siapa tahu ada restoran di depan. Aku udah lapar banget nih&#8221;.</p>
<p>Rufi tidak menghiraukan perkataan Libi. Ia pun meloncat naik ke pohon, meraih dahan demi dahan, hingga mencapai puncak tertinggi. Perlahan-lahan, diraihnya bunga kuning unga yang tumbuh mekar di sana.</p>
<p>&#8220;Aduh!&#8221;, teriak Rufi tertahan. Tiba-tiba lengannya terasa sedikit gatal dan nyeri, seperti ada yang habis menyengatnya. &#8220;Ah paling-paling juga lebah&#8221;, pikirnya.</p>
<p>Selanjutnya, dengan hati-hati, ia pun turun kembali ke bawah dan menyerahkan bunga tersebut ke tupai totol hitam.</p>
<p>&#8220;Nih bunganya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Horeeee!!!!!&#8221;, kedua tupai kecil tersebut bersorak sambil melompat-lompat riang. &#8220;Terima kasih kak rusa!!!&#8221;, seru mereka nyaris bersamaan.</p>
<p>&#8220;Iya, iya. Memang kurang berapa bunga lagi yang harus kalian kumpulkan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dua kak, tapi sepupu kami di ujung hutan tadi SMS dan mengatakan kalau ia melihat bunga kuning ungu tersebut di taman dekat rumahnya&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh bagus deh kalau begitu&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya kak. Kalau begitu kami permisi dulu ya. Oh iya, sebelumnya perkenalkan kak, namaku Pino&#8221;, ujar tupai bergaris putih, &#8220;dan ini saudaraku, Poni&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ah iya, aku Rufi, dan itu temanku&#8221;, Rufi melirik Libi yang sekarang sedang asik maen gaplek sendirian, &#8220;Libi&#8221;.</p>
<p>&#8220;Oh iya kak&#8221;, seolah teringat sesuatu Poni berkata, &#8220;tadi kan teman kakak bilang kalau ia kelaparan. Nah ini kebetulan kami bawa bekal cukup banyak. Ambil saja kak, hitung-hitung sebagai tanda terima kasih kami atas bantuan kakak&#8221;. Ia pun menyerahkan sebungkus makanan kepada Rufi.</p>
<p>Rufi terdiam. Ia tidak menyangka mereka akan memberikan bekalnya kepadanya. &#8220;Sungguh? Apa kalian punya bekal yang cukup untuk perjalanan selanjutnya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Cukup kak,&#8221; jawab Pino, &#8220;kan sebentar lagi juga sampai di rumah saudara kami. Aku dan Poni bisa minta bekal baru di sana untuk perjalanan pulang&#8221;.</p>
<p>&#8220;Baiklah kalau begitu&#8221;, ujar Rufi, &#8220;Terima kasih banyak ya!&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya kak. Sampai jumpa lagi kak!&#8221;, jawab Pino dan Poni sambil berlari dan melambaikan tangannya.</p>
<p>Rufi tersenyum. Ia pun membuka bungkusan bekal yang diberikan dan melihat ke dalam, ternyata cukup banyak juga makanan yang ada di dalamnya. Cukup untuk perjalanan 1-2 hari ke depan.</p>
<p>&#8220;Apa tuh, makanan ya?&#8221;, teriak Libi sambil merebut bungkusan yang dipegang Rufi. &#8220;Wah iya, asik, akhirnya aku bisa makannnnn!!!!&#8221;</p>
<p>&#8220;Coba lihat,&#8221; ujar Rufi pada Libi, &#8220;kalau kita membantu sesama dengan tulus, pasti kita akan mendapatkan imbalan yang setimpal&#8221;</p>
<p>Libi cuek. Mulutnya, dan mungkin juga pikirannya, sudah penuh dengan makanan.</p>
<p>Rufi menghela nafas dalam melihat tingkah Libi. Ia pun mendekat untuk mengambil sedikit makanan dari bungkusan bekal yang dipegang Libi erat-erat. Lengannya masih agak terasa sedikit gatal.</p>
<p>&#8220;Bagi dong, jangan dihabiskan sendiri. Simpan juga untuk perjalanan kita besok&#8221;.</p>
<hr />
<p><small>bersambung&#8230;</small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/pino-dan-poni.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rufi si Rusa</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/rufi-si-rusa.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/rufi-si-rusa.htm#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Jul 2008 09:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan Rufi Rusa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/rufi-si-rusa.htm</guid>
		<description><![CDATA[Kisah ini lanjutan dari cerita sebelumnya.
&#8212; 15 menit sebelum bendungan jebol, di pinggir danau yang terletak di dataran bawah air terjun &#8211;
Rufi Rusa melangkahkan keempat kakinya dengan santai menyusuri pinggiran danau yang berair jernih dan banyak ikannya itu. Pandangannya terarah pada seekor kupu-kupu bersayap biru dengan garis-garis kemilau keemasan yang sedang terbang rendah di atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><small><em>Kisah ini lanjutan dari <a href="http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm">cerita sebelumnya</a>.</em></small></p>
<p>&#8212; 15 menit sebelum bendungan jebol, di pinggir danau yang terletak di dataran bawah air terjun &#8211;</p>
<p>Rufi Rusa melangkahkan keempat kakinya dengan santai menyusuri pinggiran danau yang berair jernih dan banyak ikannya itu. Pandangannya terarah pada seekor kupu-kupu bersayap biru dengan garis-garis kemilau keemasan yang sedang terbang rendah di atas air. Jelas bukan sekali dalam hidupnya ia menemui kupu-kupu di sekitar gua tempat ia tinggal beserta kelompok rusa yang lain itu, namun entah kenapa, ia tidak pernah jemu mengagumi keanggunannya.</p>
<p><span id="more-8"></span>&#8220;Sedang mengamati kupu-kupu lagi, Rufi?&#8221;</p>
<p>Rufi menoleh ke belakang. Tampak Kakek Tore Rusa berjalan menghampirinya. Kakek Tore adalah rusa tua yang mengasuhnya sejak kecil, sejak ia ditinggal pergi oleh kedua rusa tuanya. Baginya, kakek Tore adalah sosok ayah sekaligus ibu yang selalu menjaganya.</p>
<p>&#8220;Iya, kek&#8221;, jawab Rufi. Ia geser sedikit tubuhnya ke kanan, memberi ruang bagi Kakek Tore untuk berdiri di sampingnya.</p>
<p>Kakek Tore menghentikan langkahnya. Ia berdiri sekitar 50cm di sebelah kiri Rufi. Kepalanya ia tengadahkan, menatap arah kupu-kupu biru yang tadi diperhatikan si Rufi. Kupu-kupu tadi sekarang sedang bercengkrama di udara dengan seekor burung gereja.</p>
<p>&#8220;Tahukah kamu berapa lama kupu-kupu itu bisa hidup Rufi?&#8221;</p>
<p>Rufi sedikit kaget karena kakek Tore tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepadanya. </p>
<p>&#8220;Tiga tahun?&#8221;, tebak Rufi. Asal.</p>
<p>Kakek Tore menggeleng.</p>
<p>&#8220;Kebanyakan kupu-kupu hanya bisa bertahan hidup selama 2 hingga 14 hari.&#8221;</p>
<p>Kali ini Rufi benar-benar kaget. &#8220;Sungguh?&#8221;, ujarnya.</p>
<p>&#8220;Ya&#8221;, jelas sang kakek, &#8220;walaupun tidak semua. Ada beberapa spesies yang bisa hidup selama beberapa minggu atau berbulan-bulan. Namun secara keseluruhan ya itu tadi, umur mereka pendek&#8221;.</p>
<p>Rufi terdiam. Ia tidak menyangka binatang seindah dan seanggun kupu-kupu biru tadi hanya bisa menikmati dunia dalam waktu yang tidak lama. Ia tidak bisa membayangkan, apa jadinya jika ia ditakdirkan memiliki siklus hidup yang pendek seperti mereka.</p>
<p>Seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan Rufi, kakek Tore sengaja berdiam diri. Membiarkan Rufi larut dalam pikiran dan bayangannya.</p>
<p>Samar-samar terdengar suara lengkingan dari langit. Tak berapa lama kemudian, muncul Eli Elang, melesat dengan cepat dari arah air terjun, dan berputar-putar di atas danau sambil berteriak, &#8220;AWASSSS!!!! BENDUNGAN AMBRUKKK!!!! SEGERA MENYINGKIR DARI DEKAT AIR TERJUN!!!!&#8221;</p>
<p>Rufi dan kakek Tore tersentak. Reflek mereka menatap ke arah air terjun. Memang benar, terasa ada sedikit suara gemuruh air dari arah sungai di dataran atas. Kakek Tore segera memerintahkan Rufi untuk memberitahu dan membantu rusa-rusa lainnya yang berada di dekat air terjun untuk segera menyingkir. Perintah ini ditanggapi dengan sigap oleh Rufi.</p>
<p>Semenit kemudian limpahan air bendungan menerjang bebatuan di pinggir air terjun dan menghujani danau di bawahnya dengan deras. </p>
<hr />
<p>&#8220;Siapa itu?&#8221;, tanya Rufi.</p>
<p>&#8220;Entahlah&#8221;, jawab Rena, rusa betina, cucu dari kakek Tore. Usianya sepantaran dengan Rufi.</p>
<p>&#8220;Kita menemukannya di pinggir danau, badannya basah kuyup, sepertinya ia terseret arus bendungan dan terhempas dari atas air terjun&#8221;, lanjut Rena.</p>
<p>&#8220;Wah, malang sekali nasib musang itu. Ia tidak luka parah kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu hebatnya. Tubuhnya sepertinya hanya mengalami lecet-lecet saja. Sekarang Tombi sedang merawat luka-lukanya dan mengusahakan agar ia cepat siuman&#8221;, Rena menjawab sembari mengarahkan hidung mungilnya ke arah Tombi, rusa gemuk yang handal masalah kedokteran. Kabarnya ia pernah mengikuti kursus kilat perawat di masa kuliah dulu.</p>
<p>&#8220;Baguslah kalau begitu. Kamu sendiri tidak apa-apa, Rena?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku baik-baik saja. Begitu mendengar Eli Elang berteriak tadi, aku langsung cepat-cepat menyingkir dari danau.&#8221;</p>
<p>Rufi menghela nafas lega. Namun tatapannya tetap tidak lepas dari musang yang baru saja diselamatkan oleh Rena dan kawan-kawannya. Entah kenapa, ia merasa penasaran.</p>
<hr />
<hr />
<p><small><em>bersambung&#8230;</em></small></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/rufi-si-rusa.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>32</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cabi Belajar Berenang</title>
		<link>http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm</link>
		<comments>http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 Dec 2007 02:55:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Cosa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fabel]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan Rufi Rusa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm</guid>
		<description><![CDATA[Sudah 3 jam 20 menit lebih Cabi duduk termangu di pinggir sungai. Ia sibuk mengamati ketiga temannya &#8212; Ciplak Bebek, Ciplik Bebek, dan Cipluk Bebek &#8212; yang sedang berenang. 
Iri. 
Ingin rasanya ia juga ikut menceburkan diri ke sungai yang dingin dan jernih itu, dan ikut berenang dengan gaya kupu-kupu, mengejar bebek-bebek tersebut. Selama ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah 3 jam 20 menit lebih Cabi duduk termangu di pinggir sungai. Ia sibuk mengamati ketiga temannya &#8212; Ciplak Bebek, Ciplik Bebek, dan Cipluk Bebek &#8212; yang sedang berenang. </p>
<p>Iri. </p>
<p>Ingin rasanya ia juga ikut menceburkan diri ke sungai yang dingin dan jernih itu, dan ikut berenang dengan gaya kupu-kupu, mengejar bebek-bebek tersebut. Selama ini <del datetime="2007-12-14T01:43:59+00:00">orang</del> babi tuanya hanya mengajarkan cara untuk berguling-guling di lumpur dengan baik dan benar. Gak pernah sekalipun mereka menyinggung masalah berenang.</p>
<p><span id="more-7"></span>&#8220;Lagi ngapain Bi?&#8221;, sapa Libi si Musang yang tiba-tiba muncul dari balik batu.</p>
<p>&#8220;Itu&#8221;, jawab Cabi sembari menghela nafas dalam-dalam, &#8220;aku ingin bisa berenang seperti bebek-bebek itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apalagi itu, si Cipluk&#8221;, lanjutnya. Hidungnya diarahkan ke arah Cipluk Bebek. &#8220;Ia bahkan bisa berenang hanya dengan menggunakan paruhnya.&#8221;</p>
<p>Libi terdiam. Berpikir. Sejenak kemudian matanya berkilau dan senyumnya tersungging.</p>
<p>&#8220;Mau aku ajarin berenang? Aku jago loh, waktu SD aja juara berenang tingkat kecamatan.&#8221;</p>
<p>Cabi menoleh ke arah Libi. Secercah harapan hadir di benaknya.</p>
<p>&#8220;Sungguh? Kamu sungguh-sungguh mau mengajari aku berenang?&#8221;, tanya Cabi tak percaya. Ekor pendeknya yang ikal mulai berputar-putar. Tanda ia sedang kegirangan.</p>
<p>&#8220;Yo&#8217;i&#8221;, jawab Libi dengan gaya sok gaul. &#8220;Tapi gak gratis, bos. Sekali belajar biayanya 2 juta rupiah. Itu belum termasuk ongkos transportasi, akomodasi, dan PPN.&#8221;</p>
<p>Cabi mencoba mengingat-ingat deretan angka di buku tabungannya. Sejak kecil, tiap hari ibunya selalu memberikan uang jajan. Dan sebagian dari uang tersebut selalu ia sisihkan dan ia tabung untuk biaya kuliah nanti. Cita-citanya adalah berkuliah dan menjadi lulusan UNBIT (UNiversitas BabI Teladan) agar ayah dan ibunya bangga.</p>
<p>&#8220;Baiklah, aku setuju!&#8221; jawab Cabi. Keinginan muliannya dalam sekejab tergerus oleh nafsu dan hasratnya untuk bisa berenang. Seperti ketiga temannya.</p>
<p>Beberapa saat kemudian mereka berdua pun kembali ke rumah masing-masing setelah berjanji untuk berkumpul kembali di tempat yang sama tiga hari lagi.</p>
<hr />
<p>Bu Gembul gelisah. Ia kepikiran dengan kata-kata anaknya, Cabi, tadi pagi yang mengatakan kalau siang ini ia mulai kursus berenang bersama Libi Musang. Bagaimana tidak khawatir apabila reputasi Libi yang super licik itu sudah menjadi rahasia umum bagi seluruh penghuni hutan.</p>
<p>Tidak tahan lagi, akhirnya Bu Gembul memutuskan untuk pergi ke sungai, ke tempat yang diberitahukan oleh Cabi tadi pagi. Sesampainya di sana ia terlonjak kaget dan hampir terguling jatuh ke sungai, seandainya saja ia tidak berpegangan ke dahan pohon rambutan yang ada tepat di sampingnya.</p>
<p>Ya, pemandangan yang ia lihat adalah si Cabi, anaknya, sedang asyik bermain-main di tengah sungai dengan menggunakan ban pelampung yang diikatkan ke pohon beringin di tepi sungai. Libi sendiri sedang berleha-leha di bawah pohon tersebut sambil mendengarkan iPod.</p>
<p>&#8220;Apa-apaan ini?!&#8221;, teriak Bu Gembul.</p>
<p>Libi terlonjak. Kerasnya volume iPod-nya ternyata masih kalah dengan volume suara Bu Gembul yang sedang emosi.</p>
<p>Buru-buru ia mematikan iPod, melepas earphone, dan memasukkan keduanya ke dalam saku celananya. Ia mendatangi Bu Gembul sambil berusaha tersenyum manis.</p>
<p>&#8220;Ya, ada apa Bu Gembul?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kata Cabi, kamu mau mengajari anakku berenang. Mana buktinya? Kalau hanya menggunakan pelampung seperti itu, Soni Semut juga bisa.&#8221;, omel Bu Gembul.</p>
<p>Libi melirik sepintas ke arah Cabi yang masih asik bermain air. Namun belum sempat ia membuka mulutnya untuk memberikan penjelasan, bu Gembul sudah melanjutkan omelannya ke jilid dua.</p>
<p>&#8220;Aku tidak mau tahu. Pokoknya sekarang, kamu harus ikut nyemplung juga ke sungai, dan ajari Cabi berenang yang benar.&#8221;</p>
<p>Libi mendesah pelan. &#8220;Mati aku&#8221;, gumamnya, &#8220;aku kan gak bisa berenang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi bu&#8230;&#8221;</p>
<p>Libi membatalkan niatnya untuk membantah saat melihat Bu Gembul memungut sebatang dahan pohon dengan ukuran XL di tanah. Ia merinding membayangkan kepalanya digetok dengan menggunakan dahan tersebut.</p>
<p>Dengan langkah gontai ia berjalan menuju sungai dan masuk ke dalam air. Susah payah, ia akhirnya bisa mencapai tengah sungai, tempat dimana Cabi sedang mempraktikkan ilmu si Cipluk, berenang dengan menggunakan moncong.</p>
<p>Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari arah selatan sungai. Keras. Memekakkan telinga.</p>
<p>Ketiganya terkaget-kaget. Namun kekagetan tersebut langsung berubah menjadi kepanikan saat Eli Elang melesat di langit dengan cepat sambil berteriak, &#8220;AWASSSS!!!! BENDUNGAN  AMBRUKKK!!!! CEPAT MENYINGKIR DARI SUNGAIIIII!!!!&#8221;</p>
<p>Tanpa buang waktu, Bu Gembul langsung meraih tali pelampung Cabi dan sekuat tenaga menariknya ke pinggir sungai.</p>
<p>&#8220;Ayo Cabi, dorong tubuhmu ke sini&#8221;, teriaknya, memberi semangat agar Cabi cepat tiba di pinggir sungai.</p>
<p>Libi panik. Untuk bertahan mengapung di air saja ia sudah kewalahan, apalagi kalau sekarang harus buru-buru berenang ke pinggir. Tangannya menggapai-gapai, mencoba keberuntungan, siapa tahu bisa meraih ban pelampung Cabi.</p>
<p>Tapi usahanya sia-sia.</p>
<p>Gemuruh terdengar semakin dekat dan arus air mulai bergerak semakin deras.</p>
<p>Bu Gembul yang sudah berhasil menyelamatkan Cabi segera melemparkan ban pelampung tersebut ke arah Libi.</p>
<p>&#8220;Pegang pelampung itu Libi! Aku akan menarikmu!&#8221;</p>
<p>Sayang, lemparan ban tersebut agak kurang tepat sasaran. Ban jatuh dua meter dari posisi Libi berada. Dengan kepanikan yang makin melanda, Libi berusaha keras untuk meraih ban tersebut.</p>
<p>1 meter lagi.</p>
<p>80 cm lagi.</p>
<p>50 cm lagi.</p>
<p>20 cm lagi.</p>
<p>5 cm lagi.</p>
<p>BYARRRRR!!!! Gelombang air deras muncul dengan tiba-tiba, menyeret tubuh Libi yang sudah hampir menggapai ban. </p>
<p>&#8220;Tolongggg!!!!&#8221;, teriaknya.</p>
<p>Bu Gembul dan Cabi terpaku. Mereka tidak tahu harus berbuat apa. Keduanya hanya bisa terdiam melihat tubuh kurus Libi yang terombang-ambing arus sungai, melaju ke arah air terjun yang ada sekitar 1km di depan.</p>
<hr />
<p><em>bersambung&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dongengmotivasi.com/cabi-belajar-berenang.htm/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>47</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
