Dongeng Motivasi

Kisah-kisah Inspiratif dan Motivatif

Pilih Ikan Atau Kail?

Cosa | 3.07.2007

“Duh, kok kemaraunya gak berhenti-berhenti yah”, keluh Kaka si kancil.

“Iya nih”, jawab Kuri si kura-kura lirih, “kalau begini terus dua tiga hari lagi persediaan makanan kita bakal habis.”

Kaka dan Kuri memang tinggal bersama. Mereka membuat rumah yang cukup nyaman di dalam sebuah gua kecil. Di sekitar gua sejatinya banyak ditumbuhi tanaman-tanaman yang menjadi pengisi perut mereka sehari-hari. Namun sayangnya, sejak beberapa minggu terakhir ini, panas yang berkepanjangan melanda, sehingga sedikit demi sedikit tanaman yang ada mati kekeringan.

“Coba kita bisa memancing seperti pak Beri Beruang”, lanjut Kuri, “pastinya kita tidak perlu pusing seperti ini.”

BRAKKKK!!!!

Kaka tiba-tiba meloncat dari kursinya hingga tidak sengaja menjatuhkan kursi tersebut.

“Aku ada ide!”, teriak Kaka dengan semangat ‘45.

“Ada ide ya ada ide”, gerutu Kuri yang sempat jantungan gara-gara ulah Kaka tadi, “tapi jangan bikin aku mati muda dong.”

“Dengar dulu”, potong Kaka sebelum Kuri melanjutkan omelannya. “Bagaimana kalau kita minta ikan ke pak Beri? Kan seringkali dia dapat ikan banyak, yang lebih dari jatah makan perut gendutnya. Pasti bakal diberi deh.”

“Memangnya kita akan minta-minta ikan terus ke dia? Lama-lama juga pasti pak Beri gak akan mau memberi ikan ke kita.”, jawab Kuri sambil membetulkan kursi yang tadi terjatuh. Lanjutnya, “Lebih baik kita minta diajari cara memancing ikan saja.”

“Ah, tahu sendiri kan pak Beri seperti apa sifatnya”, tukas Kaka. “Galak. Bicaranya keras, tapi susah dicerna maksudnya. Mendingan minta langsung aja. Lagipula aku malas kalau harus belajar segala.”

Kaka melangkah mendekati jendela. Matanya berbinar-binar nakal.

“Nanti aku akan cari alasan yang berbeda setiap harinya agar pak Beri mau memberikan ikan kepadaku.”, katanya. “Gimana Kur, setuju tidak?”

Kuri termenung. Di satu sisi, ia membayangkan nikmatnya duduk santai di tepi jalan setapak ke sungai sambil menunggu pak Beri lewat membawa hasil pancingannya. Ia kenal Kaka sejak lama. Kawannya yang cerdas ini pasti dapat menemukan cara untuk membuat satu dua ikan pak Beri berpindah tangan.

Di sisi lain, ia tidak ingin hanya berpangku tangan dan bergantung kepada binatang lain. Ia juga ingin dapat memancing ikan sendiri sehingga tidak kebingungan apabila suatu saat kemarau datang lagi.

“Hei, kok malah melamun”, ujar Kaka sambil mendorong pelan tempurung Kuri.

“Aku tidak ikutan deh”, jawab Kuri.

“Loh kok…”

“Iya, aku ingin coba memancing saja. Pasti terasa lebih lezat kalau ikannya hasil pancinganku sendiri”.

Mata Kaka tercenung. Ia menatap tajam ke arah Kuri. Beberapa detik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.

“HAHAHAHAH!!! Kamu bercanda kan? Memangnya kamu mau belajar darimana? Pak Beri? Bisa tambah lapar kalau kamu kelamaan ngobrol dengan dia!”, kata Kaka lantang. “Lagipula”, lanjutnya, “semua binatang di hutan ini kan tahu kalau kamu itu lambat berpikirnya.”

Kuri tersenyum mendengar sindiran Kaka.

“Biar saja”, jawabnya. Pede. “Aku yakin kalau aku berusaha pasti aku akan bisa”.

Begitulah. Keesokan harinya, Kuri mulai mengikuti dan mengamati pak Beri yang sedang memancing. Ia kemudian mencoba untuk membuat tongkat pancingnya sendiri dan menanyakan kepada pak Beri, apakah kailnya sudah benar atau belum. Dengan tekun ia berusaha memahami apa maksud perkataan pak Beri hingga akhirnya ia berhasil membuat tongkat pancing yang kuat dan kokoh.

Si kancil? Sesuai rencananya, Kaka menunggu di ujung jalan hingga pak Beri lewat dan mengiba-iba kepadanya untuk meminta seekor ikan hasil tangkapannya. Dasar cerdik, pak Beri pun tidak kuasa menolak permintaannya.

“Lihat nih,” ujar Kaka pada Kuri sesampainya di rumah, “ikan pemberian pak Beri. Besar bukan? Pasti lezat jika dibumbu rujak dan dimakan dengan sambal mangga. Mana ikanmu?”

Kuri menunjukkan kail buatannya dengan bangga.

“Nih”, katanya sambil tersenyum. “Hari ini aku memang belum bisa membawa ikan, tapi aku sudah bisa membuat tongkat pancingku sendiri.”

“Terserahlah,” tukas Kaka. “Kok mau-maunya sih repot begitu.”

Hari demi hari berlalu. Kuri terus berusaha untuk belajar tehnik memancing ikan dari pak Beri. Mulai dari memilih umpan, mencari tempat yang banyak ikannya, hingga cara menarik ikan agar tidak terlepas dari kaitannya. Kaka pun melalui hari-harinya dengan seribu satu alasan untuk dapat menaklukkan hati pak Beri.

Lama kelamaan, pak Beri pun jenuh. Ia tidak mau lagi memberikan ikannya kepada Kaka meskipun Kaka sudah memohon sambil berguling-guling di tanah. Sebaliknya, Kuri semakin ahli dalam memancing dan sudah dapat menangkap ikan sendiri. Melihat Kaka yang menangis tersedu-sedu karena tidak mendapatkan makanan hari itu, Kuri pun membagikan ikan hasil tangkapannya pada Kaka.

“Tuh kan, benar yang aku bilang”, kata Kuri bijak. “Lebih baik kita berusaha sendiri daripada selalu bergantung kepada orang lain. Meskipun kelihatannya susah, jika terus mencoba, pasti kita akan bisa.”

Kaka mengangguk perlahan. Kali ini dia setuju dengan pendapat Kuri.

Moral Cerita / Bahan Renungan:

"Daripada terus-menerus bergantung kepada orang lain, lebih baik jika kita berusaha untuk belajar dan meningkatkan kemampuan kita agar bisa seterusnya berdiri dan berusaha sendiri."

16 Komentar untuk “Pilih Ikan Atau Kail?”

  1. Tanpa Judul | Cosa Aranda mengatakan :

    […] tentang kail dan ikan, mampir ke situs baru saya, Dongeng Motivasi, dan baca kisah tentang ikan dan kail yah. Silahkan dikritik juga karena saya masih newbie dalam menulis […]

  2. baladika mengatakan :

    Ada virusnya nih………………

  3. funkshit mengatakan :

    ngga ada phirusnya akh

  4. bocah mengatakan :

    bagus om cosa jadi orang jangan tergantung orang lain.jadi anak jangan tergantung orang tua.Lebih baik usaha , usaha dan usaha.Kesuksesan tidak bisa diraih hanya dengan meminta-minta.

  5. Meraba Jalan Lolos Dari Penalti Paid Link Google | Cosa Aranda mengatakan :

    […] kali ini saya lebih ingin berbagi kail, silahkan coba tarik kesimpulan sendiri dari 2 contoh di atas, apa sebenarnya ciri dari suatu paid […]

  6. Rakhmat mengatakan :

    Benar sekali… banyak sekali dijumpai saat ini orang lebih memilih ikannya daripada kail, sekarang saya juga sedang berusaha memberikan kail kepada siapa yang membutuhkannya :)

  7. Menabung di Paypal Indonesia » Indonesian Bloggers mengatakan :

    […] Jadi, selain menabung sedikit demi sedikit earning kita di Paypal, kita juga akan mendapatkan motivasi dan perasaan bahagia ketika menerima payment dengan lebih dini. Dan sekiranya sudah cukup besar, […]

  8. n1ghtfly3r mengatakan :

    si kura dengan otak lemotnya masih bisa berusaha untuk dapat memancing,,, sobodoh apapun si kura, kalau dicoba dan mau belajar pasti ada hasilnya dan bisa puas dengan hasil yg didapat dari hasil kerja keras sendiri..

  9. Angga dot Web Id mengatakan :

    […] Pilih Ikan atau Kail? […]

  10. joe mengatakan :

    Kalo dapet ikan, paling2 cuma bisa dimakan 1 hari. Tapi kalo punya kail, kapan kita butuh ikan ya kita bisa dapat ikan. Artinya kail itu ibarat aset yang bisa datengin uang. Ikannya ibarat uang, gampang habis….

  11. Bayu mukti | Dongeng Motivasi dan Kisah Inspirasi mengatakan :

    […] Pilih Kail atau IkanĀ  […]

  12. pandi merdeka mengatakan :

    heheheh hadirr mau ikutan juga ya omm :smile: lagi ta’ susun

  13. Cari Inspirasimu disini dongengmotivasi.com « Fahry hadikusumo’s Weblog mengatakan :

    […] gaya bahasa yang unik dan pastinya akan memberikan inspirasi baruĀ  bagi anda, simak aja kisah Pilih Ikan Atau Kail, Kuda Berkacamata Hitam, bahkan ada Spiderman Nyalon, unik […]

  14. gibson mengatakan :

    Kalo dapet ikan, paling2 cuma bisa dimakan 1 hari. Tapi kalo punya kail, kapan kita butuh ikan ya kita bisa dapat ikan. Artinya kail itu ibarat aset yang bisa datengin uang. Hanny’sKalo .hehehe…..

  15. Meraba Jalan Lolos Dari Penalti Paid Link Google - dhikapahridas.com mengatakan :

    […] kali ini saya lebih ingin berbagi kail, silahkan coba tarik kesimpulan sendiri dari 2 contoh di atas, apa sebenarnya ciri dari suatu paid […]

  16. Tara Mecca Luna mengatakan :

    Aku suka ceritanya. Walaupun simple tapi berarti. Memang, hal-hal kayak gitu sepele banget.

Tinggalkan Komentar